BEKASI.POJOKSATU.ID - Industri frozen food yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir membawa peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun di balik pertumbuhan tersebut, tantangan bisnis juga semakin kompleks, terutama terkait fluktuasi harga bahan baku dan perubahan selera konsumen.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Kebab Endul, UMKM frozen food asal Kota Bekasi yang telah beroperasi sejak 2020.

Baca Juga: Kebab Endul Naik Kelas, UMKM Bekasi Manfaatkan LinkUMKM untuk Perluas Pasar

Pemilik Kebab Endul, Aisyah Ratna Wulandari, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan usaha frozen food.

Bahan utama seperti daging, tepung, hingga ikan bandeng lokal yang menjadi ciri khas produknya mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dalam beberapa periode terakhir.

"Kenaikan harga bahan baku itu tantangan paling terasa. Di satu sisi, kami ingin menjaga kualitas produk, tapi di sisi lain daya beli konsumen juga harus diperhatikan," ujar Aisyah.

Baca Juga: Hujan Semalaman, Jalan Harapan Baru Bekasi Barat Terendam Banjir 60 Sentimeter

Ia mengakui bahwa menaikkan harga jual bukan pilihan mudah karena pasar frozen food sangat kompetitif dan sensitif terhadap harga.

Selain faktor bahan baku, perubahan preferensi konsumen juga menjadi dinamika yang harus diantisipasi.

Menurut Aisyah, konsumen kini tidak hanya mencari produk praktis, tetapi juga semakin peduli pada aspek gizi, keunikan rasa, serta keberlanjutan produk.

Baca Juga: Drainase Tak Mampu Tampung Debit Air, 5 Kecamatan Kabupaten Bekasi Kebanjiran

Hal ini mendorong Kebab Endul untuk terus berinovasi, termasuk menghadirkan kebab bandeng tanpa duri berbasis ikan lokal serta varian rasa yang lebih beragam.

"Selera konsumen cepat berubah. Kalau kita tidak adaptif, bisa tertinggal. Karena itu kami terus melakukan riset kecil-kecilan, mendengarkan masukan pelanggan, dan mencoba varian baru," katanya.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan sumber daya manusia dan modal ketika permintaan meningkat, terutama saat momen pameran atau musim tertentu.

Produksi yang awalnya berbasis rumahan menuntut sistem yang lebih rapi agar kualitas tetap terjaga meski volume pesanan bertambah.

Untuk menghadapi berbagai tekanan tersebut, Aisyah memanfaatkan platform LinkUMKM dari BRI sebagai sarana evaluasi dan pemetaan usaha.

Baca Juga: Pemkot Bekasi Pangkas Birokrasi, Izin Usaha UMKM Dijanjikan Terbit dalam Hitungan Jam

Ia menyebut fitur self-assessment sangat membantu dalam melihat posisi bisnis dan menentukan langkah pengembangan yang realistis.

"Dengan evaluasi rutin, saya bisa tahu apa yang harus diprioritaskan, apakah penguatan legalitas, sertifikasi halal, atau peningkatan kapasitas produksi," ujarnya.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menilai tantangan yang dihadapi Kebab Endul mencerminkan kondisi umum UMKM di sektor pangan.

"LinkUMKM kami rancang untuk membantu UMKM menghadapi dinamika usaha, termasuk tekanan biaya dan perubahan pasar, agar tetap tumbuh secara berkelanjutan," katanya.

Di tengah kenaikan harga bahan baku dan perubahan selera konsumen, kisah Kebab Endul menunjukkan bahwa adaptasi, inovasi, dan pemanfaatan ekosistem pendukung menjadi kunci agar UMKM frozen food tetap mampu bertahan dan berkembang.***