BEKASI.POJOKSATU.ID - Sekretaris Daerah Kota Bekasi, Junaedi, memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan Pemerintah Kota Bekasi dalam mengendalikan pencemaran udara saat mengikuti Forum Diskusi Aktual yang digelar oleh Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.
Dalam paparannya, Junaedi menyampaikan bahwa sumber pencemaran udara di Bekasi berasal dari beberapa faktor utama, seperti emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, serta pembakaran sampah di ruang terbuka.
Ia menjelaskan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Kota Bekasi saat ini telah mencapai lebih dari 1,5 juta unit yang terdiri dari mobil penumpang, bus, truk, dan sepeda motor.
Baca Juga: Sekda Bekasi Hadiri Forum Kemendagri Bahas Strategi Penanganan Pencemaran Udara di Perkotaan
Selain itu, terdapat sekitar 36 industri dari berbagai sektor seperti makanan, farmasi, plastik, hingga kemasan yang juga menjadi perhatian dalam pengawasan emisi.
Untuk memantau kualitas udara, Pemerintah Kota Bekasi menggunakan berbagai metode pengukuran, di antaranya Air Quality Monitoring System (AQMS), pengujian udara ambien, serta penggunaan passive sampler di beberapa zona seperti kawasan industri, permukiman, perkantoran, dan transportasi.
Saat ini Kota Bekasi memiliki tiga stasiun AQMS yang berada di GOR Chandrabaga, TPST Bantargebang, serta TPA Sumurbatu.
Junaedi menegaskan bahwa upaya menjaga kualitas udara tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan harus terintegrasi dengan berbagai sektor, termasuk pengelolaan sampah.
“Pengendalian kualitas udara memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan sampah. Salah satu sumber pencemaran udara yang masih terjadi adalah pembakaran sampah di ruang terbuka. Oleh karena itu, penanganan sampah yang baik dan terkelola secara sistematis menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kualitas udara di daerah,” ujar Junaedi.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kota Bekasi terus melakukan berbagai langkah strategis, seperti edukasi larangan pembakaran sampah, pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor, penyiraman jalan protokol menggunakan eco enzyme, rekayasa lalu lintas angkutan barang, hingga penanaman pohon di kawasan industri dan sekolah.***




