BEKASI.POJOKSATU.id - Suko Martono menjadi nama jalan di wilayah Bekasi Utara. Namanya juga disematkan pada salah satu gedung di Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bekasi.
Sebenarnya, siapa sosok Suko Martono? Apakah merupakan orang penting di pemerintahan atau tokoh masyarakat?
Ya, Suko Martono adalah bupati Bekasi periode 1983 sampai dengan 1993. Dia merupakan tokoh militer yang pensiun dengan jabatan brigadir jenderal.
Baca Juga: Sejarah Bekasi: Ketika Presiden Soekarno Perintahkan Penghapusan Keresidenan dan Kewedanaan
Suko Martono lahir pada 24 Juli 1941 di Madiun yang saat itu masih masuk wilayah Hindia Belanda.
Dari pernikahannya dengan Budhi Hariarti, Suko Martono dianugerahi 3 orang anak, yaitu Andyawan Martono Putra
Heri Budisusetyo, Aji Sandi Nugroho dan Kusumaningtyas.
Sebelum menjadi bupati Bekasi, Suko Martono juga sedang perwira menengah dari kecabangan artileri pertahanan udara tersebut sedang menjabat sebagai Komandan Distrik Militer (kodim) Bekasi.
Selama menjabat sebagai bupati Bekasi 2 periode, yaitu tahun 9 November 1983 sampai 9 November 1993, Suko Martono melancarkan perencanaan pembangunan pusat dengan menjaga stabilitas pemerintahan dan kepegawaian.
Dalam masa pemerintahannya, Kota Administratif Bekasi baru berusia 2 tahun dan terdiri atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Bekasi dan Kecamatan Tambun. Saat itu penduduk Kota Bekasi meningkat pesat.
Kelak, Kota Administratif Bekasi akan menjadi Kotamadya Bekasi seperti yang sekarang kita kenal. Kota yang terdiri atas 12 kecamatan dan 56 kelurahan dengan penduduk yang sudah menyentuh angka 2,6 juta jiwa.
Baca Juga: Tahun 1974, Ketika Sebagian Wilayah Kabupaten Bekasi Dicaplok untuk Perluasan Jakarta
Berdasarkan Sensus Penduduk 1980, saat itu populasi Kabupaten Bekasi mencapai 1,1 juta jiwa. Dalam kutipan pada majalah Dharmasena No. 150 tahun 1993, Suko Martoni menanggapi positif keberadaan pendatang baru.
Dia menyebut hal itu justru memperkaya kebudayaan Bekasi, semisal saat itu ada keroncong di Perumnas. Kehadiran etnis lain membawa warna baru bagi Kabupaten Bekasi.
Sehingga, Suko Martono justru berfokus pada penyediaan fasilitas umum, lapangan pekerjaan, dan juga transportasi bagi masyarakat.
Bahkan, pada November 1992 dia bersama dengan Kepala Bapeda Dede Satibi studi banding ke Perancis untuk pengembangan perkotaan.
Baca Juga: Tingkat Partisipasi Terendah se-Jabar, Kinerja KPU Kota Bekasi Disorot DPRD
Suko Martono menginisiasi pembangunan Islamic Center yang ada di Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi.
Selepas menjadi bupati, Suko menjadi Direktur Bina Politik di Departemen Dalam Negeri kemudian berturut-turut menjadi anggota DPR RI.
Usai tidak aktif dalam dunia politik dan pemerintahan, dia dipilih menjadi ketua Yayasan Nurul Islam yang mengelola Islamic Center.
Suko Martono meninggal dunia pada 26 Desember 2014 pada usia 73 tahun di RSPAD Gatot Subroto. Dia dimakamkan di Tempat Pemakaman Al Azhar, Karawang.***




