BEKASI.POJOKSATU.ID - Seorang perempuan berinisial EI (52) menjadi korban tindak kejahatan modus ganjal sekaligus tukar kartu ATM, yang mengakibatkan uang di rekeningnya terkuras hingga Rp109 juta.

Peristiwa tersebut terjadi di mesin ATM BRI yang berada di sebuah minimarket di Jalan Nangka Raya, Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, pada Rabu, 19 November 2025 sekitar pukul 16.30 WIB.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Metro Bekasi Kota pada Jumat (21/11) dengan nomor laporan STTLP/B/2960/XI/2025/SPKT/POLRES METRO BEKASI KOTA/POLDA METRO JAYA.

EI menjelaskan, sebelum dirinya menggunakan mesin ATM, seorang perempuan sempat mengeluhkan kartunya tersangkut. Meski demikian, korban tetap mencoba bertransaksi. Namun situasi serupa terjadi: kartunya ikut tersangkut, sementara seorang pria di lokasi mengatakan mesin masih bisa digunakan dan kemudian menawarkan bantuan.

Baca Juga: Polres Metro Bekasi Kota Amankan 3 Remaja Hendak Tawuran di Rawalumbu

"Saya masukkan kartu, tetap seret. Bapak itu bantuin. Saya coba masukkan PIN dua kali tapi salah. Takut keblokir, jadi saya batalkan transaksi,” ujar EI, Selasa 2 Desember 2025.

 Korban kemudian pulang tanpa kecurigaan. Namun sekitar pukul 23.00 WIB, saat memeriksa mutasi melalui aplikasi BRImo, ia terkejut mendapati 13 transaksi misterius, termasuk transfer ke tiga rekening berbeda dan sejumlah penarikan tunai. Saldo yang tersisa hanya Rp305 ribu.

Transaksi tersebut antara lain transfer ke rekening atas nama Misron dan Rizki (dua rekening BRI, satu BCA).

Keesokan harinya, EI mendatangi BRI untuk memblokir rekening tujuan. Dari pemeriksaan bank, diketahui kartu ATM yang ia pegang ternyata bukan kartu asli miliknya, menandakan kartunya telah ditukar pelaku.

“Nomor kartu yang saya sebut tidak sesuai. Dari situ saya sadar kartu saya sudah ditukar,” katanya.

 Baca Juga: Viral di Medsos, Polsek Cikarang Pusat Bekuk 3 Pelaku Pemalakan Pedagang Telur Gulung

EI juga menyebut telah melihat rekaman CCTV yang menampilkan dua pria keluar dari lokasi dan menuju mobil putih, diduga bagian dari komplotan.

Hingga lebih dari satu minggu setelah laporan dibuat, korban mengaku belum ada tindak lanjut dari penyidik.

"WhatsApp saya belum dibalas, telepon juga belum dihubungi,” keluhnya.***