BEKASI.POJOKSATU.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya ilmiah untuk menekan potensi hujan lebat yang dapat memicu banjir di Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Operasi ini bukan sekadar “menyemai awan”, melainkan melibatkan perhitungan meteorologi, jenis awan, arah angin, hingga ketinggian terbang pesawat.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa OMC terbaru dilakukan dengan menyemai bahan kalsium oksida (CaO) menggunakan pesawat CASA A-2105.

Baca Juga: Tembok Lembap Bikin Cat Rusak, Ini Solusi Agar Cat Rumah Awet

Penyemaian difokuskan di wilayah Bekasi dan sekitarnya sebagai daerah hulu yang berpengaruh terhadap curah hujan di Jakarta.

“Pada sorti ini, pelaksanaan penyemaian awan difokuskan pada wilayah Bekasi dan sekitarnya dengan tujuan utama untuk memecah awan potensial pembentuk hujan dengan menghabiskan bahan semai CaO sebanyak 800 kilogram,” kata Yohan, Sabtu 24 Januari 2026.

Secara teknis, BPBD DKI menargetkan awan jenis stratocumulus, yaitu awan berlapis dengan potensi berkembang menjadi hujan jika kondisi atmosfer mendukung.

Baca Juga: Hujan Masih Turun, Warga Diminta Waspada Longsor Lanjutan di Bandung Barat

Awan ini dipilih karena masih berada pada fase yang dapat dimodifikasi sebelum berkembang menjadi hujan intens.

Penyemaian dilakukan pada ketinggian antara 7.000 hingga 8.000 kaki, menyesuaikan dengan struktur awan target.

“Awan target adalah stratocumulus dengan base awan 5.000 dan top awan 8.500 kaki. Pada saat penyemaian arah angin dominan dari barat laut,” papar Yohan.

Baca Juga: Belum Ada Bantuan dari Pemkab Bekasi, Kades Muarabakti Soroti Janji Kecamatan Babelan ke Korban Banjir

Pemilihan arah angin menjadi faktor krusial dalam OMC.

Dengan arah angin dominan dari barat laut, penyemaian dilakukan agar proses kondensasi dan hujan dapat dipercepat di luar wilayah Jakarta, sehingga intensitas hujan yang masuk ke ibu kota bisa dikurangi.

CaO berfungsi sebagai bahan higroskopis yang membantu proses pembentukan partikel air agar hujan turun lebih cepat di area yang telah ditentukan.

BPBD DKI mencatat OMC telah dilakukan beberapa hari terakhir menyusul curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir di berbagai wilayah Jakarta.

Hingga siang hari, tercatat 86 lingkungan RT dan delapan ruas jalan masih tergenang.

Baca Juga: Korban Banjir di Desa Muarabakti Bertahan Tanpa Bantuan Kecamatan Babelan dan Pemkab Bekasi

Jakarta Barat menjadi wilayah dengan dampak terluas, disusul Jakarta Timur, Selatan, dan Utara.

Ketinggian air di sejumlah titik bahkan mencapai lebih dari dua meter akibat luapan sungai-sungai besar.

Meski demikian, OMC tidak berdiri sendiri. Yohan menegaskan bahwa teknologi pengendalian cuaca ini merupakan bagian dari strategi mitigasi terpadu.

Baca Juga: Ayam Goreng Korea Lagi Hype! Ini 3 Tempat Korean Chicken Paling Diburu di Jakarta

“BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, dan Dinas Gulkarmat untuk penyedotan genangan serta memastikan sistem drainase berfungsi,” jelasnya.

Melalui pendekatan ilmiah dan teknologi cuaca, pemerintah berharap risiko banjir dapat ditekan.

OMC menjadi contoh bagaimana ilmu kebencanaan diterapkan secara nyata untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.***