BEKASI.POJOKSATU.ID - Ungkapan “jangan makan malam, nanti bikin gemuk” sudah lama beredar dan dipercaya banyak orang.
Tak sedikit yang akhirnya memilih menahan lapar di malam hari karena khawatir jarum timbangan bergeser ke kanan.
Padahal, anggapan bahwa makan malam otomatis menyebabkan kenaikan berat badan tidak sepenuhnya benar jika dilihat dari sudut pandang medis dan gizi.
Baca Juga: Isra Mi’raj Jadi Dongeng Favorit Anak, Begini Teknik Agar Cepat Hafal dan Paham
Secara ilmiah, kenaikan berat badan tidak ditentukan oleh waktu makan, melainkan oleh total asupan kalori dan kualitas makanan yang dikonsumsi sepanjang hari.
Tubuh manusia tetap membutuhkan energi, termasuk di malam hari, untuk menjalankan fungsi metabolisme dasar seperti pernapasan, kerja organ, dan perbaikan sel.
Artinya, makan malam bukanlah musuh utama selama porsinya terkontrol dan jenis makanannya tepat.
Baca Juga: Ketika Aparat Penegak Hukum Jadi Saksi, Kasus Suap Bekasi Kian Terbuka
Masalah muncul ketika makan malam identik dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak jenuh.
Banyak orang yang lapar di malam hari cenderung memilih camilan instan seperti keripik, mi instan, makanan cepat saji, atau kue manis.
Makanan jenis ini memang praktis dan menggugah selera, tetapi kandungan kalorinya tinggi dan nilai gizinya rendah.
Baca Juga: Driver Ojek Online Kembali Menjadi korban Begal Usai Mengantarkan Makanan
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, sementara aktivitas fisik minim, maka kelebihan kalori akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak.
Dari sisi medis, ada pula faktor sensitivitas insulin yang dinilai menurun pada malam hari.
Kondisi ini membuat tubuh lebih mudah menyimpan energi sebagai lemak dibandingkan menggunakannya sebagai bahan bakar.
Selain itu, makan berlebihan di malam hari dapat memicu lonjakan gula darah.
Jika terjadi berulang dan tidak diimbangi pola hidup sehat, risiko gangguan metabolik seperti diabetes, penyakit jantung, hingga stroke pun meningkat.
Baca Juga: Marjuki Buka Peluang Banyak Calon, Musda Golkar Bekasi Diminta Fair dan Kompetitif
Meski demikian, bukan berarti makan malam harus dihindari sama sekali.
Yang terpenting adalah mengatur waktu, porsi, dan jenis makanan.
Idealnya, makan malam dilakukan maksimal tiga jam sebelum tidur agar tubuh memiliki waktu mencerna makanan dengan baik.
Baca Juga: Usai OTT Ade Kuswara, KPK Panggil Kajari Bekasi untuk Dalami Suap Ijon Proyek
Menu yang dipilih sebaiknya rendah gula dan lemak jenuh, namun kaya protein, serat, dan lemak sehat, seperti sayuran kukus, ikan, dada ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau yoghurt rendah lemak.
Menghentikan kebiasaan makan larut malam memang tidak mudah, terutama bagi mereka yang sering begadang.
Namun, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan, seperti tidak menyimpan camilan tinggi kalori di rumah, menggantinya dengan buah segar, minum teh herbal untuk membantu relaksasi, serta tidur lebih awal agar hormon lapar tetap terkendali.
Baca Juga: Golkar Bekasi Belum Ganti Ketua, Musda Jadi Penentu Arah Baru
Menyikat gigi setelah makan malam juga bisa menjadi sinyal psikologis untuk berhenti makan.
Jika rasa lapar tetap muncul di malam hari, memilih camilan sehat seperti apel dengan sedikit selai kacang, greek yoghurt, atau sayuran rebus bisa menjadi solusi.
Pada akhirnya, kunci berat badan ideal bukan terletak pada jam makan malam, melainkan pada pola makan seimbang, gaya hidup aktif, dan konsistensi menjaga kesehatan secara menyeluruh.***




