BEKASI.POJOKSATU.ID - Tren makanan sehat terus bergerak dinamis, mengikuti perubahan gaya hidup, kesadaran kesehatan, hingga perkembangan riset nutrisi.
Jika beberapa tahun lalu fokus utama tertuju pada pola makan plant-based dan produk rendah lemak, memasuki 2026 arah perbincangan mulai bergeser.
Kesehatan usus, fungsi otak, serta perawatan tubuh dari dalam menjadi tema besar yang diprediksi mendominasi lanskap kuliner sehat tahun depan.
Baca Juga: Ketika Aparat Penegak Hukum Jadi Saksi, Kasus Suap Bekasi Kian Terbuka
Para ahli gizi menilai tren makanan sehat tidak lagi sekadar soal penurunan berat badan, melainkan tentang bagaimana makanan berkontribusi terhadap kualitas hidup secara menyeluruh.
Sejumlah tren lama seperti produk tinggi protein dan makanan ramah pengguna obat GLP-1 masih bertahan, namun kini hadir dengan pendekatan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
Salah satu tren yang diperkirakan mencuri perhatian adalah beauty foods atau konsep kecantikan dari dalam.
Baca Juga: Driver Ojek Online Kembali Menjadi korban Begal Usai Mengantarkan Makanan
Makanan seperti alpukat, salmon, telur, beri, hingga ubi jalar yang selama ini dikenal baik untuk kulit diprediksi akan semakin sering dikaitkan langsung dengan manfaat estetika.
Klaim tentang kesehatan kulit, rambut, dan kuku akan tampil lebih berani di label produk kemasan.
Kolagen tetap menjadi primadona, namun kini hadir dalam format yang lebih praktis, seperti minuman susu fermentasi yang juga diklaim mendukung kesehatan usus dan tulang.
Baca Juga: Marjuki Buka Peluang Banyak Calon, Musda Golkar Bekasi Diminta Fair dan Kompetitif
Antioksidan seperti resveratrol pun mulai dikemas ulang tanpa asosiasi alkohol, menyesuaikan selera konsumen yang lebih sadar kesehatan.
Di sisi lain, tren juga bergerak ke arah yang kontras dengan maraknya produk nabati beberapa tahun terakhir.
Beef tallow atau lemak sapi yang dimurnikan kembali dilirik sebagai bahan memasak, terutama untuk suhu tinggi.
Lemak ini digemari karena rasanya yang kaya dan daya simpannya yang panjang, sekaligus dianggap lebih alami karena minim proses dan pengawet.
Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan agar konsumsi lemak jenuh tetap dibatasi dan tidak menggantikan peran minyak zaitun ekstra virgin dalam pola makan sehari-hari.
Baca Juga: Usai OTT Ade Kuswara, KPK Panggil Kajari Bekasi untuk Dalami Suap Ijon Proyek
Tahun 2026 juga diprediksi menjadi momentum kebangkitan serat atau fiber maxxing.
Setelah protein lama menjadi bintang, kesadaran akan pentingnya serat bagi kesehatan pencernaan dan metabolisme mendorong lahirnya berbagai produk tinggi serat.
Serat diketahui membantu menstabilkan gula darah, meningkatkan rasa kenyang, dan mendukung mikrobioma usus.
Baca Juga: Golkar Bekasi Belum Ganti Ketua, Musda Jadi Penentu Arah Baru
Target konsumsi serat harian kembali digaungkan, yakni sekitar 25–35 gram per hari, dengan penekanan pada sumber alami seperti buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Tren nostalgia juga ikut memengaruhi pilihan makanan sehat. Fancy butter atau mentega premium diprediksi naik daun, seiring meningkatnya minat memasak di rumah.
Mentega kultur dan compound butter dengan campuran herba, rempah, atau jamur menjadi simbol kesederhanaan yang berkelas.
Baca Juga: Akhir Pekan Cerah bagi Investor, Harga Emas Pegadaian Naik Serentak
Dalam porsi kecil, mentega jenis ini dinilai mampu meningkatkan cita rasa masakan tanpa harus berlebihan.
Sementara itu, creatine yang selama ini identik dengan dunia kebugaran mulai menarik perhatian publik yang lebih luas.
Riset terbaru menunjukkan creatine berperan dalam produksi energi sel, fungsi otak, hingga kesehatan kulit.
Manfaatnya terhadap memori dan daya tahan kognitif membuat suplemen ini diprediksi akan setara popularitasnya dengan multivitamin.
Selain dari suplemen, creatine juga dapat diperoleh dari daging, ikan, susu, dan keju.
Keseluruhan tren ini menunjukkan satu benang merah, makanan sehat di 2026 tak lagi semata soal diet ketat.
Melainkan upaya merawat tubuh secara menyeluruh dari dalam, dengan pendekatan yang lebih fleksibel, fungsional, dan berkelanjutan.***




