BEKASI.POJOKSATU.id - Perkembangan Islam di Kota Bekasi tidak lepas dari keberadaan pusat ibadah ikonik. Salah satu yang paling bersejarah adalah Masjid Al-Azhar Jakapermai, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Webuah bangunan megah yang kini berdiri kokoh di jalur perbatasan strategis Jalan KH. Noer Ali (Kalimalang).

Masjid ini dikenal luas oleh masyarakat dengan kubah biru besarnya, rumah ibadah ini menyimpan kisah perjuangan panjang yang sarat akan nilai sejarah.

Awal Mula Lahan dan Filosofi "Mencetak Sawah"

Sejarah berdirinya Masjid Jami Al-Azhar Jakapermai bermula dari inisiatif para warga muslim di kawasan perumahan Jakapermai pada permulaan tahun 1980. Didorong oleh kebutuhan akan tempat ibadah dan wadah pembinaan umat, warga yang tergabung dalam Majelis Taklim Al-Muhajirien (sekarang Yayasan Wakaf Al Muhajirien) berusaha keras mengurus perizinan dan mengumpulkan dana swadaya.

Uniknya, para pendiri masjid menerapkan filosofi "mencetak sawah" sebelum menyiapkan lumbungnya. Artinya, pihak yayasan terlebih dahulu fokus membangun sektor pendidikan Islam, yaitu dengan mendirikan gedung Taman Kanak-kanak (TK) Islam Al-Azhar Jakapermai di areal lokasi tersebut. Tujuannya adalah untuk mencetak kader-kader muda muslim yang kelak akan memakmurkan masjid setelah fisiknya selesai dibangun.

Perjalanan Panjang dari Beton ke Kemegahan

Proses perwujudan masjid ini tidak memakan waktu yang singkat. Selama hampir sepuluh tahun berjalan sejak lahan diperoleh, pembangunan fisik masjid sempat terhenti. Pada bulan Agustus 1998, pengurus yayasan periode kelima mengambil langkah berani untuk menghidupkan kembali proyek yang tertunda. Mereka mulai memfungsikan kerangka beton yang belum rampung sebagai tempat shalat berjamaah darurat dan pusat kegiatan sosial.

Strategi ini berhasil memicu kembali semangat gotong royong umat. Dana pembangunan berangsur-angsur terkumpul kembali hingga arsitektur bangunan selesai sepenuhnya. Secara resmi, kemegahan bangunan ini ditandai melalui prasasti peresmian pada tanggal 9 Agustus 2006 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia kala itu, M. Jusuf Kalla.

Secara arsitektural, rancangan eksterior kubah dan menaranya terinspirasi dari keindahan Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz di Shah Alam, Selangor, Malaysia. Kini, bangunan bersejarah ini tidak hanya berdiri sebagai cagar syiar Islam, tetapi juga menjadi oase spiritual yang ramah dan nyaman bagi para komuter di Kota Bekasi.