BEKASI SELATAN, BEKASI.POJOKSATU.id - Perkembangan umat Katolik di wilayah Bekasi Selatan mencatat lembaran penting lewat kehadiran Gereja Katolik Santo Bartolomeus (Paroki Taman Galaxy). Sebagai salah satu pusat peribadatan yang dinamis di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), paroki ini menyimpan kisah perjuangan iman dan gotong royong yang mendalam sejak awal pendiriannya.
Awal Mula Pemekaran dari Paroki Induk
Sejarah berdirinya paroki ini tidak lepas dari pertumbuhan pesat jumlah umat di Gereja Santo Arnoldus Janssen, Bekasi. Pada akhir tahun 1993, paroki induk tersebut tercatat sudah menampung lebih dari 3.500 kepala keluarga. Kepadatan yang luar biasa saat misa mingguan mendorong para pengurus gereja untuk memikirkan solusi jangka panjang, yaitu memekarkan wilayah Bekasi Selatan dan Jatiasih menjadi komunitas mandiri.
Rencana pembangunan fisik gereja di kawasan Taman Galaxy mulai dimatangkan sejak tahun 1992. Berkat koordinasi yang gigih, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk gedung gereja resmi diterbitkan pada tanggal 14 Desember 1994. Pembangunan berjalan relatif kondusif dan lancar karena lokasinya yang berada di dalam area pengembangan perumahan baru.
Menjadi Paroki ke-50 Keuskupan Agung Jakarta
Momentum bersejarah terjadi pada tanggal 20 September 1995, ketika Gereja Katolik Santo Bartolomeus resmi berdiri. Kehadirannya sangat istimewa karena bertepatan dengan statusnya sebagai paroki ke-50 di KAJ, berbarengan dengan perayaan 50 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia serta pesta perak penahbisan Uskup Agung Jakarta saat itu, Mgr. Leo Soekoto.
Nama Santo Bartolomeus, salah satu dari dua belas rasul Yesus, dipilih atas arahan Uskup agar umat meneladani semangat kemurnian iman seorang rasul sejati. Penggembalaan paroki ini dipercayakan kepada para imam dari Serikat Sabda Allah (SVD).
Peresmian dan Perkembangan Fisik
Gedung ibadah utama mulai digunakan secara fungsional pada Agustus 1996. Tak lama berselang, pada tanggal 5 April 1997, gedung gereja yang mampu menampung sekitar 1.050 umat ini diberkati secara khidmat oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.
Fasilitas paroki terus dilengkapi dari tahun ke tahun. Gedung pastoring selesai dibangun pada tahun 2000, diikuti dengan pembangunan Gedung Karya Pastoral yang rampung pada tahun 2006.
Ciri khas arsitektur gereja ini semakin memikat dengan keberadaan jendela kaca patri yang indah serta menara lengkung kokoh. Pada 23 Desember 2024, gereja ini meresmikan sebuah menara lonceng baru dengan lonceng seberat 406 kg yang didatangkan langsung dari Jerman, memperkuat gaung kehadirannya di tengah masyarakat.
Dengan berpegang pada moto "Esse Est Servire" (Kita Ada untuk Melayani), paroki ini kini terus tumbuh subur, menaungi puluhan lingkungan, serta konsisten membangun hubungan harmonis dengan masyarakat lintas agama di sekitarnya.




