PONDOKMELATI, BEKASI.POJOKSATU.id - Gereja Santo Servatius yang berada di bawah reksa pastoral Paroki Kampung Sawah, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi, merupakan pusat iman dan budaya yang unik. Tempat ibadah ini menjadi saksi bisu lahirnya komunitas Katolik Betawi yang tetap teguh merawat akar tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.

Awal Mula Lahirnya Umat Katolik Kampung Sawah

Sejarah mencatat bahwa benih kekatolikan di tanah Betawi pinggiran ini mulai tumbuh pada akhir abad ke-19. Perjalanan iman ini dirintis oleh Guru Nathanael bersama rekan-rekannya yang menyeberang ke Batavia untuk menemui misionaris Katolik.

Tepat pada 6 Oktober 1896, cikal bakal umat Katolik setempat lahir ketika Pastor Bernardus Schweitz, S.J. membaptis 18 anak asli Kampung Sawah. Peristiwa pembaptisan massal pertama inilah yang secara historis diakui sebagai hari lahirnya umat Katolik di Kampung Sawah. Setahun kemudian, pada 1897, sebuah gubuk gereja sederhana berkapasitas 50 orang didirikan dengan biaya 70 gulden untuk memfasilitasi iman umat yang kian bertumbuh.

Dinamika Perkembangan Menjadi Paroki

Perjalanan komunitas ini tidak selalu berjalan mulus. Komunitas sempat melewati "masa-masa gelap" dan pasang surut akibat larangan aktivitas keagamaan oleh pemerintah kolonial, hingga perpindahan jemaat ke denominasi lain. Titik balik kebangkitan umat terjadi pada tahun 1917 saat Pastor A. Mathijsen, S.J. diutus untuk menghidupkan kembali stasi ini.

Seiring berjalannya waktu, stasi ini menunjukkan perkembangan yang signifikan:

  • Tahun 1922: Pembangunan kembali gedung gereja untuk mengakomodasi jumlah umat yang terus bertambah.

  • Tahun 1936: Paroki resmi berdiri mandiri dengan adanya buku baptis pertama dan pengangkatan pastor paroki yang menetap.

  • Tahun 1996: Gedung gereja megah yang berdiri saat ini diberkati bertepatan dengan perayaan yubileum seabad (100 tahun) kehadiran umat Katolik di sana.

Menariknya, pelindung paroki awalnya adalah Santo Antonius Padua. Namun, karena nama tersebut telah digunakan oleh paroki lain di Keuskupan Agung Jakarta, nama pelindung secara resmi diganti menjadi Santo Servatius pada perayaan satu abad tersebut.

Nama ini merujuk pada misionaris legendaris asal Asia yang bermisi ke Eropa Barat. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut, paroki ini menerima relikui suci potongan tulang Santo Servatius yang didatangkan langsung dari Basilika Santo Servatius di Maastricht, Belanda.

Kebudayaan Betawi yang Melekat Erat

Satu hal yang membuat Paroki Kampung Sawah begitu ikonik di Indonesia adalah konsistensinya dalam merawat inkulturasi budaya Betawi. Kekatolikan tidak menghapus identitas lokal mereka. Sebaliknya, identitas lokal diapresiasi secara mendalam.

Hingga saat ini, nuansa Betawi sengaja diangkat dalam ritus gereja, seperti penggunaan bahasa dan lagu Betawi dalam ibadah setiap minggu pertama setiap bulan. Selain itu, umat rutin mengadakan tradisi "Sedekah Bumi" setiap tanggal 13 Mei sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan berkat Tuhan bagi tanah Kampung Sawah.