BEKASI.POJOKSATU.id - Harga kelapa parut di sejumlah pasar tradisional wilayah Kabupaten Bekasi mengalami lonjakan tajam hingga dua kali lipat. Kenaikan ini disebabkan oleh kelangkaan pasokan dari tingkat produsen, yang membuat pedagang kesulitan mendapatkan barang.
Salah satu pedagang kelapa parut, Luthfi (36 tahun), mengatakan bahwa harga kelapa parut yang sebelumnya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per butir, kini melonjak menjadi Rp20.000 hingga Rp25.000 per butir.
“Kenaikan harga ini sudah terjadi sejak awal tahun dan mencapai puncaknya menjelang bulan puasa,” ujar Luthfi saat ditemui di lapaknya, Kamis, 17 April 2025.
Menurutnya, kelangkaan pasokan terjadi karena pasokan dari tingkat petani dan bandar semakin terbatas. Hal ini berdampak langsung terhadap ketersediaan barang di pasar.
Baca Juga: Urbanisasi Usai Lebaran, Kades Cijengkol Instruksikan RT-RW Perketat Pendataan
“Sekarang lagi susah dapat barangnya. Dari bandar juga bilang petaninya lagi kesulitan. Jadi stoknya terbatas,” kata dia.
Luthfi menambahkan, biasanya ia mendapatkan pasokan sekitar 1.500 butir kelapa per hari. Namun, saat ini jumlahnya merosot drastis menjadi hanya sekitar 500 butir per hari.
Kondisi ini memaksa pemasok untuk mencari kelapa dari wilayah yang lebih jauh, yang berdampak pada meningkatnya ongkos kirim dan harga jual ke pedagang.
“Kalau dulu mau ambil berapa pun pasti ada. Sekarang, minta dikirim satu mobil saja susah. Di sana (wilayah pemasok), barangnya juga kosong, harus cari dulu beberapa hari,” kata dia menjelaskan.
Baca Juga: Rapat Minggon Desa Tamanrahayu Bahas Antisipasi Genangan dan Pendataan Warga
Kelangkaan kelapa ini pun berimbas pada naiknya harga santan dan produk olahan kelapa lainnya, yang kerap dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga dan industri makanan kecil menjelang Lebaran.***




