BEKASI, POJOKSATU.id - Paguyuban Petani Kecamatan Pebayuran memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi atas respons cepat dalam menangani krisis air di wilayah lumbung pangan tersebut. Langkah nyata ini dinilai krusial untuk menyelamatkan potensi perputaran ekonomi sektor pertanian yang mencapai Rp250 miliar per musim tanam dari ancaman gagal panen.
Perwakilan Paguyuban Petani Pebayuran, Sardi, mengungkapkan bahwa Plt. Bupati Bekasi dr. Asep Surya Atmaja telah turun langsung ke lokasi sedikitnya tiga kali untuk memastikan aliran air ke areal persawahan berjalan lancar menjelang musim tanam.
“Ini sudah hampir ketiga kalinya beliau turun langsung ke Pebayuran. Beliau memang sangat concern terhadap kondisi petani di sini,” ujar Sardi saat mendampingi peninjauan lapangan di Pebayuran, Selasa, 6 Oktober 2026.
Sardi menjelaskan bahwa pengerjaan normalisasi saluran sekunder sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, meliputi pembersihan BKG 6 hingga BKG 38. Selain pengerjaan mekanis dengan alat berat, aksi gotong royong pembersihan eceng gondok secara manual (goloran) juga digalakkan untuk mengurai penyumbatan.
Langkah penanganan irigasi ini terbukti mendesak. Pasalnya, gangguan pasokan air di kawasan persawahan Pebayuran berisiko memicu kegagalan panen yang berdampak luas pada perekonomian lokal.
“Saat ini petani memasuki musim tanam, sementara kondisi air di sejumlah saluran masih kering. Jangan sampai kondisi ini menyebabkan gagal panen. Dalam satu musim tanam, perputaran ekonominya bisa mencapai sekitar Rp250 miliar,” tegasnya.
Sardi menambahkan, penanganan jaringan irigasi ini memerlukan sinergi lintas sektor antara Pemkab Bekasi, BBWS, Perum Jasa Tirta (PJT), serta partisipasi aktif para petani demi mewujudkan agenda swasembada pangan nasional.





