BEKASI.POJOKSATU.ID - Pergantian tahun dinilai tidak selayaknya diartikan semata sebagai ajang pesta dan kemeriahan.
Momentum tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai waktu untuk menenangkan diri, melakukan perenungan, serta menumbuhkan kepekaan terhadap kondisi sesama.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi, Prof. KH. Mahmud, mengimbau masyarakat agar menjadikan Tahun Baru 2026 sebagai sarana muhasabah dan evaluasi diri, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Baca Juga: DLH Ajak Warga Lebih Peduli Lingkungan Selama Perayaan Natal dan Tahun Baru 2026
Ia menyampaikan bahwa momen akhir tahun merupakan kesempatan yang tepat untuk menilai kembali perjalanan hidup serta memperbaiki niat dalam menapaki hari-hari ke depan.
Prof. KH. Mahmud juga menyoroti kondisi bangsa yang masih dilanda berbagai musibah dan bencana di sejumlah daerah, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dalam situasi tersebut, masyarakat diminta mengedepankan empati dan solidaritas kemanusiaan. Menurutnya, perayaan yang berlebihan kurang sejalan dengan nilai kepekaan sosial.
Ia menyarankan agar energi dan biaya yang biasanya digunakan untuk perayaan dialihkan pada kegiatan yang lebih bermanfaat, termasuk membantu masyarakat yang tengah tertimpa musibah.
Baca Juga: Hindari Kebakaran saat Libur Nataru, Kepala Disdamkar Beri Tips
Selain itu, pergantian tahun juga dapat diisi dengan aktivitas keagamaan yang menentramkan, seperti dzikir, doa bersama, tahlil, dan tausiyah. Kegiatan tersebut diyakini mampu memperkuat hubungan spiritual sekaligus menghadirkan optimisme menyongsong masa depan.
Dengan memperbanyak doa, kata dia, harapan akan kebaikan tidak hanya ditujukan bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga bagi masyarakat luas, bangsa, dan negara.
Prof. KH. Mahmud turut mengingatkan pentingnya menjaga akhlak serta perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap aktivitas hendaknya mencerminkan nilai moral, kesantunan, dan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya dan religius.***




