BEKASI.POJOKSATU.id – Hari ini Mochamad Djamhari berpulang pada usia 83 tahun. Semasa hidupnya, Djamhari merupakan seorang perwira militer dan birokrat.

Pria kelahiran 2 November 1943 ini pernah menjabat sebagai bupati Bekasi tahun 1993 sampai dengan 1998. Sebagai pengingat tentang sosok Mochamad Djamhari, berikut Redaksi kumpulkan faktanya dari berbagai sumber:

1. Lulusan Akmil

Mochamad Djamhari merupakan abiturien (lulusan) Akademi Militer Negera tahun 1967.

Dari data Akademi Militer, dia merupakan seorang infanteri yang saat itu berpangkat letnan dua.

2. Terpilih lewat mekanisme pemilihan tidak langsung

Tahun itu pemilihan kepala Daerah Tingkat II (kota-kabupaten) dan juga Tingkat I (provinsi) dipilih oleh dewan atau pemilihan tidak langsung.

Pada 9 Oktober 1993, Dewan Kota Bekasi menyelenggarakan pemilihan untuk bupati Bekasi. Saat itu ada 3 nama perwira militer yang diajukan yaitu Mochamad Djamhari, Nonon Sonthanie dan Kailani AR.

Djamhari memenangkan mayoritas suara, yaitu 31 dari 45 suara, sementara Kailani AR memerolah 8 suara dan Nonon Sonthanie dengan 6 suara.

Kailani AR saat itu adalah wali Kota Administratif Bekasi.

Baca Juga: Bupati Bekasi 1993-1998 Mochamad Djamhari Tutup Usia

3. Menjadi bupati

Dia dilantik pada 9 November 1993. Selama menjabat, dia didampingi oleh Dede Satibi seorang birokrat lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) asal Garut.

Dia meletakkan jabatannya pada 9 November 1998 diteruskan oleh Wikanda Darmawijaya.

4. Wakil bupati pertama

Wakil Mochamad Djamhari adalah wakil bupati Bekasi pertama untuk Kabupaten Bekasi. Dede kemudian dikenal sebagai bupati Garut selepas menjadi bupati Bekasi.

5. Industrialisasi

Pada era Mochamad Djamhari proses industrialisasi di Bekasi mulai dirintis. MM2100 saat itu baru mulai berkembang sejak hadir tahun 1992 dengan luas 100 hektare.

Kawasan East Jakarta Industrial Park (EJIP) saat itu juga baru 3 tahun beroperasi dengan luas 320 hektare.

Lalu kehadiran Lippo Cikarang pada 1990-an awal juga menjadi tonggak penting industrialisasi serta komersialiasi wilayah yang ada.

Baca Juga: KPK Periksa Anggota DPRD Bekasi Terkait Dugaan Aliran Dana Suap Ijon Proyek

6. Kota Bekasi

Semasa era Mochamad Djamhari sebagai bupati Bekasi turut mengawasi peralihan status dari Kota Administratif Bekasi menjadi Kotamadya Bekasi berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 1996.

Hal ini menandai perkembangan daerah otonomi baru (DOB) sebagai pecahan dari Kabupaten Bekasi secara mandiri.

Nonon Sonthanie yang menjadi kompetitor Djamhari pada pemilihan tidak langsung, kelak menjadi wali Kota Bekasi pertama.

7. Mengundurkan diri

Berdasarakan salah satu sumber, setelah Presiden Suharto mengundurkan diri pada Mei 1998, Djamhari juga mengajukan pengunduran diri.

Dia mengirimkan surat pengunduran diri kepada Gubernur Jawa Barat R. Nuriana dan Mendagri Letnan Jenderal ABRI Syarwan Hamid.

Belum jelas informasi mengenai hal ini, tapi Djamhari menyelesaikan masa jabatan sesuai tepat 5 tahun.

Kepemimpinannya diteruskan Wikanda Darmawijaya yang semasa Mochamad Djamhari menjabat adalah ketua DPRD Bekasi.