BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang merendam 13 desa di Kabupaten Bekasi selama tiga hari terakhir menghadirkan fenomena sosial yang menarik perhatian.
Meski genangan air berdampak pada ribuan kepala keluarga, hingga Rabu 14 Januari 2026 belum ada laporan warga yang mengungsi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah masyarakat di wilayah langganan banjir tersebut sudah terbiasa hidup berdampingan dengan bencana.
Baca Juga: Dapur MBG Bekasi Jadi Harapan Baru, Warga Sekitar Dapat Kerja Tanpa Ribet
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi, banjir melanda 13 desa yang tersebar di empat kecamatan, dengan total terdampak sekitar 6.250 kepala keluarga.
Di Desa Huripjaya, Kecamatan Babelan, ketinggian air bahkan mencapai 100 sentimeter. Namun demikian, warga tetap memilih bertahan di rumah masing-masing.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, membenarkan belum adanya pengungsian meski banjir telah berlangsung sejak Senin.
Baca Juga: Banjir Rendam 13 Desa di Bekasi, BPBD Ingatkan Warga Tetap Waspada
Ia menilai keputusan warga untuk bertahan tidak terlepas dari pengalaman menghadapi banjir berulang setiap musim hujan.
"Sampai saat ini belum ada laporan warga yang mengungsi. Sebagian besar masih bertahan di rumah, meskipun banjir sudah berlangsung beberapa hari," ujar Dodi.
Fenomena tersebut mencerminkan bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang kerap dilanda banjir.
Baca Juga: Utang RSUD Kota Bekasi Tembus Rp70 Miliar, Piutang BPJS Capai Rp25 Miliar per Bulan
Banyak warga memilih tetap tinggal demi menjaga harta benda, ternak, maupun aktivitas sehari-hari, meski harus berhadapan dengan genangan air.
Di sejumlah wilayah, rumah warga telah disesuaikan dengan kondisi banjir, seperti meninggikan lantai atau menyiapkan perabotan darurat.
Bagi sebagian warga, mengungsi justru dianggap lebih merepotkan, terutama jika banjir masih bisa ditoleransi.
Namun, pilihan bertahan di tengah banjir juga menyimpan risiko.
BPBD mengingatkan bahwa kondisi cuaca saat ini masih memasuki puncak musim hujan, dengan potensi hujan lebat disertai angin kencang. Situasi tersebut dapat memperburuk kondisi banjir secara tiba-tiba.
"Kami tetap mengimbau warga untuk waspada. Kalau kondisi air naik dan sudah membahayakan, jangan ragu untuk mengungsi demi keselamatan," kata Dodi.
Baca Juga: BPBD Catat 6.840 KK Terdampak Cuaca Ekstrem di Kabupaten Bekasi
BPBD Kabupaten Bekasi terus melakukan pemantauan, pendataan, serta penyaluran logistik kepada warga terdampak.
Koordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, TNI, dan Polri juga dilakukan untuk memastikan respons cepat jika kondisi memburuk.
Fenomena warga yang memilih bertahan di tengah banjir ini menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat beradaptasi dengan bencana yang terus berulang.
Namun, di balik ketangguhan tersebut, keselamatan tetap menjadi hal utama yang harus dikedepankan.
BPBD menegaskan, adaptasi tidak boleh mengabaikan risiko. Warga diminta terus mengikuti informasi cuaca dan arahan petugas agar dampak banjir tidak berujung pada korban jiwa.***




