BEKASI.POJOKSATU.ID - Pemerintah Kabupaten Bekasi menyiapkan langkah mitigasi untuk mencegah kembali jebolnya tanggul Sungai Citarum yang kerap memicu banjir di wilayah hilir.
Upaya preventif ini difokuskan pada sembilan titik tanggul kritis yang tersebar di Kecamatan Muaragembong, Pebayuran, dan Cabangbungin, dengan melibatkan koordinasi intensif bersama Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan pencegahan menjadi prioritas utama agar kejadian jebolnya tanggul tidak kembali terulang.
Baca Juga: KPK Periksa Ajudan Bupati hingga Pengawas BUMD, Kasus Suap Ijon Proyek Bekasi Kian Meluas
Berdasarkan pemetaan sementara, terdapat lima titik tanggul kritis di Kecamatan Muaragembong serta empat titik lainnya di wilayah Pebayuran dan Cabangbungin yang membutuhkan penanganan segera.
"Saya sudah bicara dengan BBWS, anggarannya sudah disiapkan. Kita ingin dilakukan secepat mungkin biar preventif pencegahan, jangan sampai nanti jebol lagi," ujar Asep, Rabu 21 Januari 2026.
Menurut Asep, perbaikan sementara akan dilakukan sembari menunggu rencana jangka panjang berupa pembangunan tanggul permanen.
Baca Juga: Korban Sempat Terlihat di Warung Kopi Sebelum Tertemper Kereta di Perlintasan Agus Salim
Ia menegaskan, langkah darurat ini penting untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Citarum, terutama saat debit air meningkat akibat curah hujan tinggi.
Dengan adanya koordinasi bersama BBWSC, Pemkab Bekasi berharap penanganan tanggul kritis bisa dilakukan lebih terukur dan berbasis data teknis.
Asep menyebutkan, langkah-langkah perkuatan tanggul akan difokuskan pada titik-titik rawan yang sebelumnya sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sejak awal Januari.
Baca Juga: Demo di TPA Burangkeng Soroti Transparansi dan Pengelolaan Sampah, Kades: Aspirasi Warga Wajar
"Ini bukan hanya soal perbaikan, tapi bagaimana mencegah sejak dini. Jangan sampai masyarakat terus waswas setiap kali hujan turun," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSC, Jaya Sampurna, menjelaskan bahwa kondisi tanggul di wilayah hilir Citarum memiliki tantangan tersendiri.
Selain curah hujan ekstrem, aliran sungai kerap tertahan oleh banjir rob dari laut sehingga menyebabkan muka air sungai tetap tinggi.
"Mungkin karena hujan besar di kawasan ini, selain itu ada banjir rob yang menahan laju air. Sehingga walaupun air di hulunya kecil, tetapi di sini kelihatan besar," kata Jaya.
Ia menambahkan, karakteristik tanah aluvial di kawasan Muaragembong, Pebayuran, dan Cabangbungin juga membuat tanggul lebih rentan mengalami kerusakan.
Baca Juga: Wali Kota Bekasi Resmikan Taman Harapan RW 15 Duren Jaya, Apresiasi Seni Mural Warga
Tanah jenis ini berasal dari endapan sehingga membutuhkan penanganan ekstra dalam setiap upaya perkuatan.
"Tanah aluvial itu berasal dari endapan, sehingga penanganannya harus ekstra. Kita harus menghitung pengaruh rob agar penanganannya benar-benar andal," jelasnya.
Jaya mengungkapkan, panjang tanggul yang jebol bervariasi antara 10 hingga 20 meter, dengan tingkat kerawanan sedang hingga tinggi.
Karena itu, ia menilai upaya pencegahan dan perbaikan dini sangat penting untuk menghindari dampak banjir yang lebih luas terhadap permukiman warga.***




