BEKASI.POJOKSATU.ID - Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan menyusul terjadinya banjir rob yang merendam permukiman warga dan fasilitas sosial selama sekitar 10 hari.
Peristiwa ini menegaskan tingginya kerentanan wilayah pesisir Bekasi terhadap bencana banjir rob, terutama saat air laut pasang dan cuaca ekstrem terjadi secara bersamaan.
Letak geografis Muaragembong yang berada di kawasan pesisir utara Jawa membuat wilayah ini rentan terdampak limpasan air laut.
Baca Juga: Baznas Salurkan Paket Logistik ke Muaragembong, Warga Terdampak Banjir Rob Terbantu
Kondisi daratan yang relatif rendah serta minimnya infrastruktur penahan rob menyebabkan air laut dengan mudah masuk ke area permukiman, jalan, hingga fasilitas pendidikan dan keagamaan.
Salah satu lokasi yang terdampak adalah Pondok Pesantren Fastabiqul Khoirots, di mana aktivitas santri dan pengajar sempat terganggu akibat genangan air.
Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, menyebut kondisi geografis Muaragembong menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan bencana.
Baca Juga: Dua Sungai Penentu Nasib Bekasi: Cileungsi dan Cikeas di Balik Banjir Tiga Hari Terakhir
“Wilayah Muaragembong berada dekat kawasan pantai sehingga air laut pasang sangat mudah masuk ke permukiman warga. Kondisi ini membuat banjir rob berulang dan membutuhkan perhatian serius,” ujar Saidah, Kamis 22 Januari 2026.
Banjir rob tidak hanya berdampak pada aktivitas harian warga, tetapi juga menghambat akses distribusi logistik dan mobilitas masyarakat.
Sejumlah ruas jalan terendam sehingga warga kesulitan beraktivitas, termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasar.
Baca Juga: Gubernur Jabar Bongkar Akar Banjir: Alih Fungsi Lahan dan Pengembang Nakal
Situasi ini membuat bantuan darurat masih sangat dibutuhkan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, santri, dan lansia.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyalurkan bantuan Paket Logistik Keluarga berisi kebutuhan pokok bagi masyarakat terdampak.
Namun, bantuan jangka pendek dinilai belum cukup jika tidak diiringi dengan langkah mitigasi bencana yang berkelanjutan.
Pimpinan Pondok Pesantren Fastabiqul Khoirots, Ahmad Munawir, berharap penanganan banjir rob di Muaragembong tidak hanya bersifat sementara.
Baca Juga: Video Viral Perlihatkan Detik-Detik Warga Bertahan Hidup di Banjir Parah Bekasi
“Kami sangat terbantu dengan bantuan logistik, tetapi yang lebih penting ke depan adalah solusi jangka panjang agar banjir rob tidak terus berulang dan mengganggu kehidupan warga,” kata Ahmad.
Pengamat kebencanaan menilai, wilayah pesisir seperti Muaragembong memerlukan perencanaan mitigasi terpadu, mulai dari penguatan tanggul, penataan kawasan pesisir, hingga edukasi kebencanaan bagi masyarakat.
Tanpa langkah tersebut, banjir rob berpotensi menjadi ancaman tahunan yang terus berulang dan berdampak pada kualitas hidup warga pesisir Bekasi.***




