BEKASI.POJOKSATU.ID - Warga Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, memilih bergerak sendiri memperbaiki jalan rusak di wilayahnya setelah menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian penanganan dari pemerintah.

Aksi swadaya ini tak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga dinilai sebagai bentuk protes halus agar pemerintah segera turun tangan.

Melalui penggalangan donasi yang dimulai sejak 17 Februari 2026, warga berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp23.921.000.

Baca Juga: Hujan Semalaman, Jalan Sultan Agung Bekasi Tergenang, Warga Terjebak Macet Sejak Pagi

Dana tersebut langsung direalisasikan untuk membeli delapan truk batu kapur senilai Rp16 juta guna menutup kerusakan di sejumlah titik jalan.

Penggalangan donasi ini dikoordinir oleh Aliya dan Anggi, yang secara terbuka menyampaikan perkembangan penggunaan dana kepada masyarakat.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @azat_mj, Aliya menyampaikan apresiasi kepada para donatur.

Baca Juga: Antisipasi Tawuran dan Balapan Liar di Bulan Ramadhan, Polisi Kota Bekasi Gencar Patroli

“Kami ingin menyampaikan donasi dari masyarakat yang sudah berpartisipasi dalam perbaikan jalan Desa Pantai Bahagia saat ini telah dilaksanakan,” ujar Aliya.

Ia menegaskan bahwa aksi tersebut lahir dari kepedulian warga terhadap keselamatan dan kelancaran aktivitas sehari-hari.

Jalan yang rusak dinilai mengganggu mobilitas, bahkan berpotensi membahayakan pengguna.

Baca Juga: Hujan Dua Hari, Jalan Raya Perumnas 3 Bekasi Terendam Banjir 50 Sentimeter

“Adapun donasi yang kami kumpulkan yaitu untuk saat ini berkisar Rp23.921.0000,” tuturnya.

Di balik aksi gotong royong tersebut, terselip pesan moral yang ingin disampaikan kepada pemerintah daerah.

Warga mengaku sudah lama menyampaikan aspirasi agar jalan tersebut diperbaiki secara menyeluruh.

Azat, warga setempat, menyebut keresahan masyarakat telah berlangsung sekitar empat tahun.

Menurutnya, pernah ada upaya perbaikan, namun hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh keseluruhan ruas jalan.

Baca Juga: Polsek Bekasi Utara Pantau Normalisasi Kali Mangseng, Pastikan Proyek Antisipasi Banjir Aman

“Awalnya warga sudah resah karena jalan tidak kunjung diperbaiki. Sudah ada 4 tahunan jalan seperti ini (rusak). Sempet ada perbaikan tapi ga maksimal dan tidak menyeluruh hanya satu dua titik,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga telah mengadukan kondisi tersebut kepada pemerintah desa.

Namun, pihak desa menyatakan bahwa jalan tersebut berstatus jalan kabupaten sehingga bukan menjadi kewenangan desa.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Terima Audiensi Sanggar Berprestasi di Festival Seni Asia

“Kita komplain ke desa masalah jalan, pihak desa mengklaim bahwa itu jalan kabupaten bukan jalan desa lagi,” tuturnya.

Pernyataan tersebut membuat warga merasa berada di posisi serba sulit.

Di satu sisi, kerusakan jalan berdampak langsung terhadap kehidupan mereka. Di sisi lain, persoalan kewenangan menjadi alasan belum adanya penanganan serius.

Baca Juga: Sanggar Gantari Gita Khatulistiwa Borong Juara di Festival Seni Asia 2026 Hong Kong

Anggi berharap aksi swadaya ini dapat membuka mata pemerintah untuk segera memberikan dukungan konkret.

Menurutnya, inisiatif warga bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan bentuk tanggung jawab sosial sekaligus harapan akan kolaborasi.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini ada dukungan dari pemerintah. Semoga hasil dari kegiatan ini dapat dirasakan bersama dan menjadi langkah awal untuk kerja sama yang positif berikutnya,” ungkapnya.

Aksi patungan ini menunjukkan kuatnya solidaritas warga pesisir Muaragembong.

Namun lebih dari itu, langkah tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat tidak lagi ingin menunggu tanpa kepastian.

Mereka memilih bergerak sambil tetap berharap pemerintah hadir dengan solusi permanen, bukan sekadar tambal sulam sementara.***