BEKASI.POJOKSATU.ID - Rencana pembangunan hunian vertikal bagi buruh di Kabupaten Bekasi menuai respons positif dari kalangan serikat pekerja, terutama karena lokasi yang dipilih dinilai strategis dan relatif aman dari risiko banjir.

Proyek tersebut direncanakan berdiri di Jalan Serang Bulak, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, kawasan yang dekat dengan sentra industri dan akses transportasi.

Sekretaris konsulat cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Bekasi, Sarino, menyebut pemilihan lokasi di Cibitung sebagai langkah tepat dan representatif bagi kebutuhan buruh.

Baca Juga: DP Nol dan Subsidi Pemerintah Disambut Antusias, Buruh Bekasi Nilai Hunian Vertikal Jadi Harapan Baru

Menurutnya, selama ini banyak rumah subsidi tapak yang tersedia bagi buruh justru berada di wilayah yang jauh dari tempat kerja, seperti Srimukti atau Cibarusah.

Selain jarak tempuh yang memakan waktu, faktor kerawanan banjir juga kerap menjadi kekhawatiran.

“Nah sekarang justru dengan rumah vertikal ini potensi kebanjirannya minim. Itu yang diharapkan. Daripada perumahan terlalu jauh juga belum tentu aman dari banjir,” ujar Sarino, dikutip dari Radar Bekasi, Selasa 24 Februari 2026.

Baca Juga: Jelang Arus Mudik 2026, Bekasi Siapkan Rp11 Miliar Demi Jalan Mulus dan Pemudik Aman

Ia menilai, kedekatan lokasi hunian dengan kawasan industri akan memangkas biaya transportasi sekaligus meningkatkan kualitas hidup buruh.

Waktu tempuh yang lebih singkat memberi ruang bagi pekerja untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga.

“Kita sangat setuju apalagi dengan DP-nya nol dan subsidi dari pemerintah. Karena sekarang cari rumah khususnya teman-teman buruh yang masih muda-muda ini sulit, karena lokasinya udah jauh-jauh yang subsidi,” katanya.

Baca Juga: Penumpang Membludak, Dishub Bekasi Siapkan Halte Permanen Transjakarta di Komsen Jatiasih

Lokasi di Desa Wanajaya dinilai strategis karena berada di koridor penghubung kawasan industri Cibitung dan sekitarnya.

Infrastruktur jalan utama yang memadai serta akses menuju fasilitas umum menjadi nilai tambah.

Selain itu, konsep hunian vertikal dianggap lebih adaptif terhadap risiko genangan dibanding perumahan tapak di dataran rendah.

Bagi buruh, persoalan banjir bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan juga risiko kerugian ekonomi akibat kerusakan barang dan terganggunya aktivitas kerja.

Karena itu, aspek keamanan lokasi menjadi pertimbangan utama dalam memilih tempat tinggal.

Baca Juga: Sopir Truk Sampah Desak Wali Kota dan Polisi Turun Tangan, Pungli di Jalur TPA Dinilai Tak Bisa Dibiarkan

Sarino menegaskan, kepemilikan rumah tetap menjadi impian besar bagi buruh, terutama yang baru bekerja satu hingga dua tahun.

Dengan lokasi yang dekat dan relatif aman, hunian vertikal di Cibitung dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus yaitu aksesibilitas dan keamanan lingkungan.

“Yang penting teman-teman buruh itu punya rumah udah seneng banget, luar biasa. Cuman dalam perjalanannya yang jadi kendala juga ini saat banjir,” terangnya.

Baca Juga: Jaga Produksi Padi Tetap Stabil, Pemkab Bekasi Kebut Pemulihan Lahan Terdampak Banjir demi Ketahanan Pangan Daerah

Berdasarkan data serikat pekerja, sekitar 10-20 persen buruh di setiap pabrik di Kabupaten Bekasi belum memiliki rumah.

Program hunian vertikal di Cibitung diharapkan dapat memperluas akses kepemilikan properti bagi kalangan pekerja, khususnya generasi muda yang selama ini terkendala jarak dan keterbatasan biaya.

Selain pembangunan fisik, serikat pekerja juga berharap pemerintah memastikan dukungan regulasi pembiayaan berjalan lancar.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Cikarang Dorong Transformasi Digital, Layanan JKN Makin Cepat dan Transparan

Lokasi yang strategis dinilai akan semakin optimal jika diiringi kemudahan akses kredit bagi buruh kontrak maupun magang.

Dengan pemilihan Cibitung sebagai titik pembangunan, program hunian vertikal ini dipandang bukan sekadar proyek properti.

Melainkan langkah strategis meningkatkan kesejahteraan buruh melalui penyediaan tempat tinggal yang dekat, aman, dan layak huni.***