BEKASI.POJOKSATU.id - Meski pasokan relatif aman, sejumlah komoditas strategis di Kabupaten Bekasi sempat mengalami kenaikan harga pada pekan pertama Ramadan akibat lonjakan permintaan masyarakat.
Kepala Bidang Bahan Pokok dan Barang Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Helmi Yenti, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut merupakan dinamika pasar yang lazim terjadi setiap Ramadan.
“Fenomena ini merupakan hukum pasar yang terjadi secara alamiah, ketika permintaan meningkat cukup tajam dalam waktu singkat maka harga akan menyesuaikan, dan kondisi seperti ini hampir selalu terjadi setiap tahun saat memasuki Ramadan,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Tegas! Stok Sembako dan LPG 3 Kg Aman hingga Lebaran, Warga Diminta Belanja Secukupnya
Komoditas seperti cabai merah, daging sapi, dan daging ayam menjadi yang paling terdampak. Bahkan, harga cabai merah sempat menyentuh Rp90 ribu per kilogram di sejumlah pasar.
“Kemarin harga cabai sempat menyentuh angka Rp90 ribu per kilogram di beberapa pasar pantauan, namun sekarang sudah mulai turun bahkan di sejumlah titik sudah berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Untuk meredam gejolak harga, Dinas Perdagangan menggandeng sejumlah BUMN seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia dan Perum Bulog dalam pelaksanaan operasi pasar.
“Intervensi pasar kami lakukan dengan menggandeng BUMN seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia dan Perum Bulog sehingga operasi pasar dapat dilaksanakan secara bersama-sama dan berdampak langsung terhadap stabilitas harga,” paparnya.
Selain itu, program Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga digelar untuk membantu masyarakat.
“Melalui OPADI, masyarakat dapat memperoleh paket sembako senilai kurang lebih Rp120 ribu hanya dengan membayar sekitar Rp50 ribu karena adanya subsidi lebih dari 50 persen, sehingga beban pengeluaran rumah tangga dapat ditekan secara signifikan,” jelas Helmi Yenti.
Ia menambahkan, koordinasi dengan daerah produsen seperti Garut untuk cabai serta Subang untuk telur dan daging ayam terus dilakukan, termasuk pengawasan bersama aparat melalui Satgas Pangan guna mencegah penimbunan dan praktik spekulasi harga.***




