BEKASI.POJOKSATU.ID - Ancaman banjir besar kembali menghantui Kabupaten Bekasi setelah terungkap adanya 71 titik tanggul kritis di bantaran Kali Bekasi dan Kali Citarum yang berpotensi jebol.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat berdampak luas terhadap permukiman warga, khususnya di wilayah rawan.
Data tersebut merupakan hasil pemetaan BPBD Kabupaten Bekasi yang menunjukkan bahwa sejumlah tanggul sudah berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
Jika tidak segera ditangani, potensi luapan air saat curah hujan tinggi bisa memicu banjir besar.
Baca Juga: Perbedaan Mencolok Terungkap! KBIH Terfasilitasi, Jemaah Haji Mandiri Butuh Dukungan Lebih Serius
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengungkapkan bahwa kondisi ini diperparah oleh faktor lingkungan yang sudah lama tidak mendapatkan perawatan optimal.
“Curah hujan tinggi ditambah dengan kondisi sungai yang sudah lama tidak dirawat menyebabkan air meluap. Sedimentasi dan penyempitan aliran menjadi penyebab utama banjir di beberapa wilayah,” ujarnya, dikutip dari Radar Bekasi, 14 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa wilayah utara seperti Kecamatan Cabangbungin dan Muaragembong menjadi daerah yang paling rentan terdampak.
Kondisi geografis yang dekat dengan aliran sungai membuat kawasan tersebut lebih cepat terendam saat debit air meningkat.
Meski ancaman terus mengintai, penanganan tanggul berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai.
BPBD sendiri telah melaporkan kondisi tersebut kepada pihak terkait, termasuk pemerintah provinsi dan pusat, agar segera dilakukan perbaikan.
“Penanganan akan dilakukan bertahap. Bahkan, kementerian terkait juga sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi tanggul yang perlu segera diperbaiki,” kata Muchlis.
Namun, proses perbaikan yang dilakukan secara bertahap dinilai belum cukup untuk meredam kekhawatiran masyarakat.
Warga di wilayah rawan kini dihadapkan pada potensi risiko banjir yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Situasi ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
Tanpa penanganan cepat dan menyeluruh, kerusakan tanggul dapat berdampak pada meluasnya genangan hingga merusak infrastruktur dan mengganggu aktivitas warga.
BPBD juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terburuk.
Baca Juga: 50 Ribu Buruh Akan Kepung DPR RI Saat May Day 2026
Selain menunggu perbaikan, warga diminta untuk lebih waspada terhadap perubahan kondisi lingkungan, terutama saat musim hujan.
Muchlis menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi masalah yang kompleks ini.
“Kami berharap kolaborasi antarinstansi ini dapat mempercepat penanganan masalah banjir di Kabupaten Bekasi,” pungkasnya.
Dengan kondisi tanggul yang masih kritis dan ancaman banjir yang nyata, Kabupaten Bekasi kini berada dalam situasi yang membutuhkan perhatian serius agar risiko bencana dapat diminimalkan.***




