BEKASI.POJOKSATU.id -  Penjualan hewan kurban jenis sapi di wilayah Kabupaten Bekasi mulai menunjukkan tren penurunan menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang memilih mengurangi stok sapi guna mengantisipasi potensi kerugian di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Pemilik Ghita Farmer di Cikarang Timur, Budiono, mengatakan permintaan sapi kurban hingga saat ini masih tetap ada, khususnya dari pelanggan setia. Namun, jumlah pembelian belum setinggi tahun-tahun sebelumnya.

“Permintaan masih ada, terutama dari pelanggan lama, tetapi memang belum sebanyak tahun sebelumnya,” ujar Budiono, Jumat, 15 Juni 2026.

Baca Juga: 13 Calon Anggota BPD Cibening Ditetapkan, Didominasi Wajah Baru

Ia menjelaskan, kenaikan harga sapi serta menurunnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama lesunya penjualan tahun ini.

Karena itu, pihaknya lebih banyak menerapkan sistem penjualan berdasarkan pesanan konsumen dibanding menyediakan stok dalam jumlah besar seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kami tidak menyiapkan stok terlalu banyak. Sebagian besar sapi tersedia sesuai pesanan pelanggan. Saat ini sudah terjual lebih dari 100 ekor,” katanya.

Budiono menyebutkan hampir seluruh jenis sapi mengalami kenaikan harga, mulai dari sapi Bali hingga sapi lokal seperti limosin dan simental.

Harga sapi Bali di tingkat peternak yang sebelumnya berada di kisaran Rp48 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp55 ribu hingga Rp58 ribu per kilogram.

Sementara itu, sapi limosin berbobot sekitar 500 kilogram yang sebelumnya dijual Rp31 juta sampai Rp33 juta per ekor, kini naik menjadi Rp33 juta hingga Rp35 juta.

Baca Juga: 19 Calon BPD Burangkeng Undi Nomor Urut dan Deklarasi Damai

Sedangkan sapi Bali berbobot 400 kilogram yang tahun lalu dijual Rp24 juta per ekor kini naik menjadi sekitar Rp26 juta.

Menurutnya, kenaikan harga tersebut diduga dipicu berkurangnya populasi sapi pasca merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) beberapa waktu lalu.

Selain faktor harga, kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil serta maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) juga dinilai memengaruhi minat berkurban tahun ini.

“Biasanya di lingkungan perumahan atau masjid ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi,” jelasnya.

Budiono memperkirakan penurunan penjualan saat ini berkisar antara satu hingga lima persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Meski begitu, peluang penjualan masih terbuka karena Hari Raya Idul Adha masih berlangsung sekitar tiga pekan lagi.

Ia juga menyoroti mulai berkurangnya pedagang sapi musiman di pinggir jalan sebagai salah satu indikator menurunnya minat pasar tahun ini.

Baca Juga: Kades Kertarahayu Pesan Calon BPD Utamakan Niat Bangun Desa

“Tahun ini pedagang musiman di pinggir jalan juga berkurang. Kemungkinan karena harga sapi dan biaya operasional yang tinggi,” ungkapnya.

Pada Idul Adha tahun ini, Ghita Farmer hanya menyediakan sekitar 150 ekor sapi, jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu yang mencapai 350 hingga 400 ekor.

Meski penjualan menurun, pihaknya memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat dan telah mendapatkan vaksinasi lengkap, termasuk vaksin PMK dan Lumpy Skin Disease (LSD) untuk sapi asal Bali.

“Kami juga melakukan vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental. Jadi kesehatan hewan tetap terjaga,” pungkasnya.