POJOKBEKASI.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui Dinas Pertanian telah menerjunkan Tim Pengendalian Penyakit Hewan dan Penjamin Kesehatan Hewan (P2HPKH) untuk mengawasi peredaran hewan kurban jelang Idul Adha.
Tim yang beranggotakan 32 personel kesehatan dan dokter hewan ini telah bertugas sejak beberapa pekan lalu untuk memeriksa hewan kurban di seluruh lokasi penjualan, baik di tingkat peternakan maupun eceran.
Ketua Tim P2HPKH Dewi Suryani mengatakan, saat ini pihaknya telah memeriksa sedikitnya 19.000 ekor hewan kurban dari 227 titik penjualan. Jumlah tersebut dipastikan terus bertambah karena pemeriksaan masih terus dilakukan.
“Pemeriksaan terus kami lakukan hingga H-1 Idul Adha. Nantinya tidak hanya di tingkat penjual tapi juga bergeser ke tempat-tempat atau masjid-masjid yang akan menyelenggarakan penyembelihan. Kami periksa juga kondisi kesehatannya,” ucap dia, Kamis (21/5/2026).
Dari belasan ribu hewan kurban, mayoritas di antaranya sapi yang mencapai sekitar 9.000 ekor. Kemudian domba 5.600 ekor dan kambing 4.000 ekor.
“Itu data yang sudah masuk. Sedangkan data di lapangan yang sudah diperiksa saya pastikan lebih banyak, hanya laporannya saja memang yang belum masuk semua. Jadi datanya terus bergerak,” ucap dia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, hampir seluruh hewan dalam kondisi sehat dan siap kurban. Namun, diakui Dewi terdapat beberapa kasus penyakit yang diderita, di antaranya penyakit mata.
“Penyakit mata kami temukan di Cikarang Barat, jadi ada iritasi di mana matanya merah dan berair. Dari hasil pemeriksaan terindikasi karena perubahan cuaca, ada perbedaan cuaca dari lingkungan asalnya hingga ke sini. Misalkan asal Garut yang mungkin dingin, sedangkan di Bekasi panas. Itu berpengaruh,” ungkapnya.
Kemudian gejala penyakit mulut dan kuku (PMK) ditemukan pada beberapa sapi. Meski tidak bisa digunakan untuk kurban, kata Dewi, tapi masih layak dikonsumsi jika dimasak dengan benar.
“Yang PMK itu kami temukan gejalanya. Kami minta dipisahkan dengan hewan yang sehat lainnya. Namun PMK itu kan bukan penyakit yang menular ke manusia sebenarnya. Jika dimasak dengan benar, dagingnya aman untuk dikonsumsi. Namun untuk kurban belum bisa karena kami minta untuk diobati dulu sampai sembuh,” katanya.
Dewi mengimbau masyarakat membeli hewan kurban yang telah diperiksa kesehatannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat antara lain dari gerak hewan yang aktif, nafsu makan baik, mata cerah, hidung bersih, serta bulu tidak kusam.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi fisik hewan. Seperti tidak kurus, tidak cacat, tidak buta, serta memiliki kaki dan tanduk yang normal.
“Pada kondisi ini masyarakat bisa melihat langsung dan memeriksa tanda-tandanya dengan bertanya ke penjual. Tidak apa-apa detail agar pasti kondisinya sehat,” ungkapnya.(*)



