BEKASI.POJOKSATU.id - Musim kemarau yang memasuki puncaknya mulai menimbulkan dampak serius di Kabupaten Bekasi. Sebanyak 30.593 warga atau 10.254 kepala keluarga (KK) di 23 desa yang tersebar pada sembilan kecamatan mengalami krisis air bersih akibat mengeringnya sumur-sumur warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama selama musim kemarau, mengingat kebutuhan air bersih untuk aktivitas sehari-hari tetap harus terpenuhi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan ribuan warga terdampak tersebar di sejumlah wilayah yang mengalami penurunan debit air tanah secara signifikan.

"Dampak musim kemarau tahun ini telah menyebabkan 10.254 kepala keluarga atau 30.593 jiwa di Kabupaten Bekasi mengalami krisis air bersih," ujar Dodi, Kamis, 30 Juli 2026.

Baca Juga: Dua Bakal Calon Sudah Mendaftar Pilkades Burangkeng, Panitia Sebut Satu Kandidat Lagi Segera Menyusul

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD bersama berbagai instansi pemerintah, perusahaan, organisasi kemanusiaan, hingga lembaga sosial terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.

Hingga akhir Juli 2026, distribusi bantuan telah menjangkau 83 titik kekeringan dengan total air bersih yang disalurkan mencapai 2.892.300 liter.

"Hingga saat ini, total 2.892.300 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat," katanya.

Pasokan air bersih tersebut berasal dari berbagai pihak. BPBD Kabupaten Bekasi menyumbang 1.118.000 liter, Perumda Tirta Bhagasasi 908.000 liter, PMI 580.000 liter, Yayasan SCK 160.000 liter, BBWS Ciliwung Cisadane 40.000 liter, BBWS Citarum 16.000 liter, PT EJIP 10.000 liter, Delta Mas 33.000 liter, PT Hyundai 6.000 liter, DPC GAMKI 5.000 liter, Yayasan BMI 8.000 liter, serta program CSR Jababeka sebesar 8.300 liter.

Selain mendistribusikan bantuan, BPBD juga memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Perumda Tirta Bhagasasi, Dinas Pertanian, Dinas SDABMBK, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta II, Dinas Kesehatan, hingga anggota Klaster Logistik untuk mempercepat penanganan dampak kekeringan.

"Kami juga berkoordinasi dengan anggota Klaster Logistik agar ikut berkontribusi dalam pendistribusian bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak bencana kekeringan," ujar Dodi.

Berdasarkan data BPBD, Kecamatan Bojongmangu menjadi wilayah dengan jumlah titik kekeringan terbanyak, yakni 30 titik di enam desa, disusul Kecamatan Serang Baru dengan 20 titik di lima desa, serta Kecamatan Cikarang Selatan yang mencatat 15 titik di empat desa.

Baca Juga: Kejari Kabupaten Bekasi Tahan Anggota DPRD Nyumarno dalam Kasus Dugaan Pengeroyokan

"Secara keseluruhan, tiga kecamatan itu menyumbang sekitar 78 persen dari total 83 titik kekeringan yang tercatat di Kabupaten Bekasi," ungkapnya.

Selain ketiga wilayah tersebut, kekeringan juga terjadi di Kecamatan Cabangbungin, Tarumajaya, Babelan, Sukawangi, Pebayuran, dan Sukatani.

BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat selama musim kemarau berlangsung. Sementara itu, pendistribusian bantuan air bersih akan terus dilakukan hingga kondisi pasokan air di wilayah terdampak kembali normal.***