BEKASI.POJOKASATU.ID - Banjir besar yang melanda Desa Srimukti dan Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, memaksa fasilitas pendidikan kembali menjalankan fungsi darurat.
SDN Srimukti 01 kini berubah menjadi tempat pengungsian sementara bagi ratusan warga yang rumahnya terendam luapan Sungai Cikarang Bekasi Laut.
Sejak Minggu 18 Januari 2026 pagi, ruang-ruang kelas yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar mengajar kini dipadati warga yang mengungsi bersama keluarga.
Baca Juga: Empat Desa di Tambun Utara Terparah Dilanda Banjir, Ribuan Warga Terdampak
Meja dan kursi belajar disingkirkan untuk memberi ruang bagi warga beristirahat.
Sebagian warga tidur beralaskan lantai kelas, sementara lainnya memanfaatkan meja sekolah sebagai alas tidur karena keterbatasan perlengkapan.
Salah satu warga terdampak, Aang (42), mengatakan banjir datang dengan sangat cepat pada dini hari.
Baca Juga: Air Bersih Masih Terbatas, Perumda Tirta Bhagasasi Pacu Target Layanan 60 Persen
Kondisi tersebut membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan barang-barang, apalagi mencari tempat aman yang layak.
"Jam 3 pagi kita sudah waspada, jam 5 air naik, jam 6 sudah harus keluar rumah. Airnya cepat sekali naik, lebih tinggi dari banjir tahun lalu,” ujar Aang, dikutip dari Radar Bekasi, 18 Januari 2026.
Menurutnya, ketinggian air di rumah warga mencapai sekitar 1,5 meter dan terus bertambah hingga siang hari.
Baca Juga: Arus Balik Libur Long Weekend Mulai Terasa, Volume Kendaraan ke Jabodetabek Meningkat
Arus air yang deras membuat warga memilih menyelamatkan diri terlebih dahulu dibandingkan mempertahankan harta benda.
Akibatnya, banyak keluarga hanya membawa pakaian seadanya saat mengungsi.
Penggunaan sekolah sebagai tempat pengungsian memang menjadi solusi darurat yang kerap dilakukan saat bencana.
Namun, kondisi ini berdampak pada terhentinya kegiatan belajar mengajar.
Aktivitas pendidikan di SDN Srimukti 01 dipastikan tidak dapat berjalan normal selama sekolah masih digunakan sebagai lokasi pengungsian dan selama kondisi lingkungan belum dinyatakan aman.
Baca Juga: Curah Hujan Tinggi Picu Genangan di Jalan Tol Sedyatmo, Jasa Marga Kerahkan Pompa
Di dalam ruang kelas, anak-anak, orang dewasa, hingga lansia bercampur dalam satu ruangan.
Keterbatasan logistik membuat warga berharap adanya bantuan segera, terutama makanan siap saji, selimut, pakaian ganti, serta kebutuhan bayi seperti popok.
"Yang dibutuhkan sekarang makanan, pakaian, selimut, pampers. Kalau barang-barang di rumah, sudah pasrah," ucap Aang.
Baca Juga: BPBD Catat 13 Titik Banjir di Kabupaten Bekasi, Ketinggian Air Capai 2 Meter
Selain menjadi tempat berlindung, sekolah juga menjadi titik berkumpul warga untuk saling berbagi informasi dan bertahan di tengah ketidakpastian.
Kondisi ini menegaskan peran penting fasilitas publik, termasuk sekolah, sebagai ruang aman sementara saat bencana terjadi.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera menyalurkan bantuan dan menyiapkan dapur umum agar kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
Mereka juga berharap banjir segera surut sehingga aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar anak-anak, dapat kembali berjalan normal.***




