BEKASI.POJOKSATU.ID - Dunia usaha di Kabupaten Bekasi mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi dampak ekonomi dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Asosiasi Pengusaha Indonesia biasa disingkat Apindo Kabupaten Bekasi mendorong pelaku industri memperkuat ketahanan perusahaan melalui berbagai strategi mitigasi agar aktivitas produksi tetap stabil.

Ketua Apindo Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono, mengatakan konflik antara Iran dan Israel berpotensi menimbulkan efek domino terhadap perekonomian global.

Baca Juga: Pengusaha Bekasi Mulai Rasakan Kenaikan Harga BBM dan Transportasi, Sinyal Awal Dampak Konflik Timur Tengah

Meski dampaknya belum terasa signifikan di tingkat lokal, para pengusaha diminta untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

“Kekhawatiran pengusaha di Kabupaten Bekasi terkait perang Iran-Israel utamanya adalah dampak ekonomi yang mungkin terjadi,” kata Yusuf, di Bekasi, Rabu 4 Maret 2026.

Kabupaten Bekasi dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.

Baca Juga: Hadapi Lonjakan Pemudik Lebaran, Dishub Bekasi Turunkan 70 Personel Gabung Posko Polisi Amankan Jalur Mudik

Di wilayah ini terdapat sedikitnya 11 kawasan industri dengan lebih dari 7 ribu perusahaan yang beroperasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, otomotif, elektronik, hingga industri makanan dan minuman.

Besarnya aktivitas industri di wilayah tersebut membuat para pelaku usaha harus lebih sigap dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Yusuf menjelaskan bahwa sektor manufaktur menjadi yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi internasional, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Baca Juga: Misteri Mayat di Kali Villa Gading Harapan Belum Terungkap, Sidik Jari Tak Terbaca dan Keluarga Korban Masih Dicari

Gangguan pada jalur perdagangan global, kenaikan harga energi, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah dapat berdampak langsung terhadap biaya produksi perusahaan.

Untuk menghadapi potensi tersebut, Apindo Kabupaten Bekasi telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi yang dapat diterapkan oleh para anggotanya.

Salah satu langkah utama yang didorong adalah diversifikasi sumber energi dan bahan baku agar perusahaan tidak bergantung pada satu sumber pasokan saja.

“Apindo Kabupaten Bekasi telah menyiapkan beberapa strategi mitigasi, seperti diversifikasi sumber energi dan bahan baku, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, serta mengoptimalkan rantai pasok dan logistik,” ujar Yusuf.

Langkah lain yang juga ditekankan adalah peningkatan efisiensi produksi di tingkat perusahaan.

Baca Juga: Moratorium Utilitas Berlaku, Lurah Bantargebang Turun Langsung Awasi Galian Kabel Optik di Jalan Narogong

Dengan meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional, pelaku usaha diharapkan mampu menjaga daya saing industri di tengah potensi gejolak ekonomi global.

Selain itu, optimalisasi sistem rantai pasok dan logistik juga menjadi perhatian utama.

Perusahaan didorong untuk memperkuat jaringan distribusi serta memperluas alternatif pemasok bahan baku agar tidak terlalu bergantung pada satu jalur perdagangan internasional.

Baca Juga: Mayat Pria di Kali Tambun Ditemukan dengan Luka Sobek di Wajah, Polisi Tunggu Hasil Autopsi Ungkap Penyebab Kematian

Yusuf menambahkan bahwa kesadaran terhadap risiko geopolitik global kini semakin penting bagi dunia usaha.

Situasi global yang dinamis membuat perusahaan harus lebih adaptif dalam merancang strategi bisnis jangka panjang.

“Kami juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan kesadaran terhadap risiko geopolitik agar lebih siap menghadapi perubahan kondisi global,” tuturnya.

Baca Juga: Jelang Arus Mudik, Jalan Rusak di Bekasi Jadi Sorotan, Pemkab Siapkan Anggaran Hingga Rp2 Miliar

Meski demikian, hingga saat ini Apindo Kabupaten Bekasi belum menerima laporan resmi mengenai gangguan besar terhadap aktivitas industri di wilayah tersebut.

Beberapa pelaku usaha memang mulai merasakan kenaikan biaya operasional, terutama terkait harga bahan bakar dan transportasi, namun dampaknya masih relatif terbatas.

Apindo akan terus memantau perkembangan situasi global secara berkala dan berkoordinasi dengan para pelaku industri di kawasan Bekasi.

Organisasi tersebut berharap konflik geopolitik tidak berkembang lebih luas sehingga tidak memberikan tekanan besar terhadap sektor industri nasional.

“Situasi masih terus berkembang dan pengusaha di Kabupaten Bekasi harus tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan yang tidak terduga,” pungkas Yusuf.***