BEKASI.POJOKSATU.id - Para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Bekasi tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga bahan baku dan material pendukung produksi.
Kenaikan harga kedelai impor serta plastik kemasan memaksa pelaku usaha mencari berbagai strategi agar usaha tetap bertahan.
Sejumlah penyesuaian dilakukan, mulai dari memperkecil ukuran produk hingga mengurangi jumlah tenaga kerja. Langkah ini diambil sebagai upaya menekan biaya produksi di tengah kondisi yang semakin berat.
Perajin tahu asal Kecamatan Cikarang Barat, Deden (55 tahun), mengaku harus mengambil langkah tersebut demi menjaga kelangsungan usahanya.
“Saya ingin menyelamatkan usaha yang sudah sejak lama saya rintis. Terpaksa dilakukan biar bisa terus produksi,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.
Baca Juga: Pemdes Tamansari Terima Audiensi Warga Terkait Jumlah Pemilih Pengisian BPD
Ia menjelaskan, mahalnya harga kedelai impor membuatnya harus melakukan efisiensi, salah satunya dengan mengecilkan ukuran tahu meski tidak terlalu signifikan. Selain itu, jumlah pekerja juga dibatasi, bahkan hampir setengah dari karyawannya untuk sementara dirumahkan.
“Jumlah pekerja dibatasi. Hampir 50 persen pekerja dirumahkan, tapi hanya untuk sementara. Saat permintaan besar, baru semua karyawan dipekerjakan,” jelasnya.
Dalam sepekan, seluruh karyawan hanya bekerja penuh sekitar tiga hari, sementara hari lainnya produksi dilakukan secara terbatas. Ia bersyukur para pekerja memahami kondisi tersebut.
Kondisi serupa juga dialami perajin tempe di Desa Jayasampurna, Kecamatan Serang Baru, Sukhep (51 tahun). Ia menyebut harga kedelai kini mencapai Rp10.900 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp10.000.
“Kalau biasanya satu kuintal kedelai harganya Rp1 juta, sekarang sudah tembus Rp1.090.000,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga sudah terjadi sejak menjelang Idulfitri, namun yang menjadi tantangan adalah fluktuasi harga yang berlangsung sangat cepat. Bahkan, harga bisa berubah setiap hari.
Baca Juga: Plt Bupati Bekasi Ajak Mahasiswa Kolaborasi Bangun Daerah, Aspirasi Siap Ditindaklanjuti
Selain kedelai, harga plastik pembungkus yang bergantung pada bahan impor juga melonjak tajam, dari Rp270 ribu menjadi Rp380 ribu per rol.
Meski biaya produksi meningkat, Sukhep mengaku belum menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Sebagai solusi, ia memilih mengecilkan ukuran tempe.
“Ukuran tempe diperkecil. Tapi kalau yang lain pada naik, bisa juga harga naik. Yang jelas kalau kondisi seperti ini, produksi bisa turun karena ukuran tempe menyusut,” demikian kata dia.***




