POJOKSATU.id, KABUPATEN BEKASI - Kisah Aas, 25 tahun, seorang warga Kampung Pulo Rengas di Bekasi, menjadi tragis saat dia berusaha mencari kehidupan yang lebih baik di Arab Saudi.
TKW (tenaga kerja wanita)diduga menjadi korban kekerasan oleh majikannya di sana.
Aas berangkat ke Arab Saudi pada bulan April 2023 dengan harapan mendapatkan gaji besar dan pekerjaan yang enak, namun kenyataannya sangat berbeda.
Sebagai seorang single parent, Aas meninggalkan anak semata wayangnya demi mencari nafkah yang lebih baik.
Awalnya, dia diiming-imingi gaji puluhan juta rupiah oleh tetangga yang menghubungkannya dengan sebuah agensi di Jakarta Timur.
Baca Juga: Aksi Heroik Emak-Emak di Cikarang Bikin Penjahat Gagal Curi Motor
Meskipun pihak keluarga melarangnya pergi, karena kondisi Aas yang sendiri dan harus menghadapi tanggungan hidup, dia akhirnya memutuskan untuk pergi.
”Saya minta tolong secepatnya kepada Bapak Jokowi, pulangkan saya ke Indonesia. Saya mohon bantuannya Pak Jokowi," kata Aas pada video itu.
Setibanya di Arab Saudi, harapan Aas tidak terwujud. Dia mengalami perlakuan yang tidak manusiawi, termasuk disiksa dan diberi makan sisa.
Aas berharap bisa dipulangkan ke Indonesia secepatnya dan meminta bantuan dari Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Joko Widodo, untuk membantunya pulang.
Kerabat Korban, Mukti Ali, 54 tahun, menjelaskan Aas berangkat pada Ramadhan 2023.
"Dia diiming-imingi gaji besar dan pekerjaan enak," kata dia.
Tawaran itu datang dari tetangga yang menyebut gaji per bulan mencapai puluhan juta. Kemudian, Aas pun diperkenalkan kepada salah satu agensi.
Baca Juga: Tak Kapok, Lagi-Lagi Remaja Ditangkap Gara-Gara Hendak Tawuran
“Pihak keluarga awalnya melarang kepergian Aas. Tapi memang dalam kondisi Aas yang sendiri, kemudian harus ada tanggungan, maka dia bingung mencari rezeki kemana,” tutur pria yang akrab disapa Kyai kancil ini.
“Itu yang dialami saat ini oleh Aas. Artinya sudah tidak layak sebagai manusia. Perlakuan dari majikannya itu kepada Aas sangat tidak layak, termasuk ada kekerasan fisik,” kata pimpinan pesantren Pulo Emas ini.
Meskipun pihak keluarga masih bisa berkomunikasi dengan Aas, mereka mengalami kesulitan administratif dalam upaya pemulangan karena kontrak Aas dengan agensi berlangsung selama dua tahun.
Pihak keluarga terus berusaha berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk mempercepat proses pemulangan.
"Jawaban dari Agen di Sirkah, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, karena kontraknya itu dua tahun. Sementara belum dua tahun mau pulang, maka ada seperti ganti rugi dan lain-lainnya,” kata dia.
Baca Juga: Warung di Tengah Kepungan Sampah TPST Bantargebang Raih Omzet Tak Sedikit Lho
Aas berasal dari keluarga pekerja lepas dan memiliki satu anak dari pernikahan sebelumnya.
Kondisi Aas dan keluarganya menjadi menyedihkan karena keinginan untuk mencari penghidupan yang lebih baik justru berakhir dalam penderitaan di negeri orang.***




