Bekasi - PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) melaporkan pada semester pertama 2023 meraih prapenjualan sebesar Rp628 miliar, atau setara dengan pencapaian sebesar 46 persen dari target tahun ini sebesar Rp1,375 triliun.
Prapenjualan pada semester satu 2023 ditopang oleh proyek-proyek residensial LPCK yaitu Waterfront Uptown, Newville dan Cendana Spark, serta permintaan yang tinggi untuk lahan industri (Delta Silicon 3).
"Dengan kontribusi masing-masing sebesar 64 persen dan 30 persen. Sisanya enam persen terdiri dari penjualan lahan dan ruko-ruko komersial," ucap Head of Corporate Communication Lippo Cikarang, Jeffrey Rawis, Senin (9/10).
Selain itu, perseroan juga melaporkan pendapatan total sebesar Rp578 miliar selama semester satu 2023 dengan gross margin dapat dipertahankan secara stabil pada level 46 persen.
"Perseroan juga mencatatkan EBITDA positif pada Rp150 miliar atau sebesar 26 persen dari total pendapatan perseroan," lanjut Jeffrey.
Pada 2023, perseroan menetapkan target prapenjualan sebesar Rp1,375 triliun yang terbagi menjadi Rp800 miliar dari segmen residensial, Rp500 miliar dari segmen industrial dan Rp75 miliar dari segmen komersial.
"Untuk sisa tahun 2023, LPCK akan terus menjaga momentum penjualan dengan peluncuran produk-produk residensial, komersial dan industrial terbaru perseroan yang akan ditawarkan dengan harga yang bersaing dan menjawab kebutuhan konsumen," ungkapnya.
Pada sisi ESG tahun ini, PT Lippo Karawaci Tbk selaku induk usaha LPCK meluncurkan Agenda Keberlanjutan 2030, yang merupakan komitmen publik grup perseroan untuk mencapai serangkaian target lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) yang holistik dan terukur.
"Perseroan percaya agenda keberlanjutan akan meningkatkan standar kinerja keberlanjutan, terutama dalam aksi iklim, dampak sosial dan tata kelola perusahaan yang baik. Agenda ini menyelaraskan kebijakan perusahaan dan rencana pertumbuhan bisnis dengan tujuan dan strategi keberlanjutan," katanya.
LPCK juga melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan pada Kamis (5/10) di Jakarta. Pemegang saham telah menyetujui perubahan susunan anggota direksi yang baru, terhitung sejak RUPSLB ditutup sampai dengan berakhirnya masa jabatan direksi pada penutupan RUPS 2026.
Dari hasil RUPSLB, Didik Junaedi Rachbini menjadi presiden komisaris dan Ketut Budi Wijaya menjadi presiden direktur.(enr)



