BEKASI.POJOKSATU.ID - Wilayah hilir kembali menanggung dampak banjir akibat ketimpangan pengelolaan air di kawasan hulu dan industri.

Kondisi ini dirasakan warga Perumahan Villa Mutiara 2, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, yang kerap terdampak banjir meski di lokasi tidak sedang turun hujan.

Fenomena banjir kiriman tersebut dinilai sebagai cerminan persoalan tata kelola air yang belum terintegrasi antara kawasan hulu, industri, dan permukiman.

Baca Juga: Gapura Hampir Rp1 Miliar di Bekasi Jadi Ujian Transparansi APBD

Pemerintah Kecamatan Cikarang Selatan bersama perangkat terkait melakukan monitoring ke Kali Cikarang yang berbatasan langsung dengan Perumahan Villa Mutiara 2, Selasa 6 Januari 2026.

Dari hasil pemantauan tersebut, diketahui bahwa aliran air dari kawasan hulu tidak lagi tertampung optimal di wilayah industri, sehingga meluap ke kawasan permukiman di hilir.

“Hari ini kita melakukan monitoring ke Kali Cikarang yang berbatasan langsung dengan Villa Mutiara 2 Cikarang Selatan. Kita memastikan kondisi di sini seperti apa sehingga selalu banjir,” kata Muhammad Sa’id, dikutip dari Radar Bekasi, 7 Januari 2026.

Baca Juga: Cuaca Bekasi Hari Ini Didominasi Hujan Ringan, Ini Wilayah Terdampak

Menurut Sa’id, salah satu penyebab utama banjir di wilayah tersebut adalah kapasitas penampungan air di kawasan industri MM2100 yang sudah mendekati batas maksimal.

Air yang seharusnya tertahan dan dikelola di kawasan tersebut justru berbalik arah dan mengalir ke wilayah permukiman warga.

“Air yang seharusnya mengalir ke kubangan atau penampungan air di kawasan MM2100 kini justru berbalik. Luapan air bergeser ke Villa Mutiara 2 Cikarang Selatan,” ujarnya.

Baca Juga: Wajah Kota Tercoreng, Parkir Liar Ganggu Kenyamanan Penumpang KRL

Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara kawasan industri di hulu dengan wilayah permukiman di hilir.

Ketika kawasan industri relatif aman dari genangan, warga di Villa Mutiara 2 justru harus menghadapi banjir kiriman yang datang secara tiba-tiba.

Ketua RW 08 Perumahan Villa Mutiara 2 Desa Sukasejati, Aris Setiawan, mengungkapkan bahwa banjir di lingkungannya bisa terjadi hingga dua kali dalam setahun.

Ironisnya, banjir tersebut sering datang saat cuaca sedang panas dan tidak turun hujan di wilayah Cikarang.

“Banjir di sini bukan saat hujan deras, tapi justru saat cuaca panas. Ini air kiriman dari Bogor,” kata Aris.

Baca Juga: Anggaran Jadi Alasan, Bekasi Tunda Penambahan Pasar Tradisional

Ia menilai pesatnya perkembangan kawasan industri turut memperparah kondisi tersebut.

Daerah resapan yang sebelumnya berfungsi menahan air kini semakin berkurang akibat alih fungsi lahan.

“Kawasan industri MM2100 yang dulu menjadi muara air sekarang sudah diurug dan dijadikan area parkir kontainer,” ujarnya.

Baca Juga: Proyek Gapura Rp1 Miliar Jadi Polemik, Publik Pertanyakan Skala Prioritas Pemkot Bekasi

Aris menambahkan, Blok C Perumahan Villa Mutiara 2 menjadi titik paling rendah, sehingga aliran air tertahan dan meluap ke permukiman.

Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi ketimpangan hulu–hilir tersebut.

Sebagai solusi, pihak kecamatan telah mengusulkan pembangunan water pond di lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sekitar kali sebagai penampungan air sementara.

Baca Juga: Parkir Liar Tak Kunjung Hilang, Gedung Parkir Alun-alun Jadi Andalan Pemkot Bekasi

Usulan tersebut telah disurvei oleh Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi.

“Mudah-mudahan tahun ini bisa dibangun. Paling tidak bisa menjadi tempat penampungan sementara air agar ke depan tidak ada lagi banjir,” ujar Sa’id.

Warga berharap pengelolaan air di kawasan industri dan hulu dapat dilakukan lebih adil dan terintegrasi agar wilayah hilir tidak terus menjadi korban banjir berulang.***