BEKASI.POJOKSATU.id - Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Bekasi, H. Marcos, mendorong adopsi konsep 'link and match' antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pelaku industri.

H. Marcos melihat belum semua SMK di Kabupaten Bekasi menerapkan pendekatan 'link and match', oleh itu diperlukan sinergi dengan pelaku industri.

"Pemerintah Provinsi harus mendorong perusahaan industri untuk bekerja sama dengan SMK di daerah seperti Kabupaten Bekasi. Mereka perlu berkolaborasi dengan SMK untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan," ujar H. Marcos pada Selasa, 24 Oktober 2023.

Baca Juga: Forbiscab Hipmi, Pelaku Usaha di Kabupaten Bekasi Dapat Wawasan tentang Kemitraan dengan Usaha Besar

Marcos mendengar aspirasi dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK yang berasal dari Kecamatan Muaragembong, kecamatan terluar di Kabupaten Bekasi yang mengalami kesulitan dalam pencarian kerja lulusan SMK.

"Masukan dari MKKS tersebut dapat memberikan gambaran untuk menyusun kebijakan dalam proses belajar-mengajar, termasuk perubahan dalam kurikulum," tambahnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah pengangguran terbuka di Kabupaten Bekasi meningkat setiap tahun. Pada tahun 2022 saja, terdapat 203.000 orang menganggur. Angka itu meningkat dari 197.000 orang pada tahun 2021.

Dia percaya salah satu masalah utama serapan lulusan SMK di Kabupaten Bekasi adalah ketidaksesuaian antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri.

Baca Juga: Hipmi Kabupaten Bekasi Salurkan Air Bersih di 3 Kecamatan Terdampak Kekeringan

Oleh karena itu, lulusan SMK seringkali belum siap memasuki dunia kerja. Selain itu, keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) masih terbatas, hanya ada satu BLK untuk seluruh wilayah Kabupaten Bekasi.

"Seberapa pun baiknya SMK, jika lulusannya tidak sesuai dengan kebutuhan industri, maka SMK tersebut tidak akan memiliki dampak yang signifikan. Oleh karena itu, perlu melibatkan semua pihak, termasuk Dunia Usaha dan Industri, dalam proses pembangunan SMK," tegas caleg DPRD Jabar Dapil IX nomor urut 4 ini.

Dia berharap adanya komunikasi yang efektif antara Dunia Usaha-Industri dan SMK serta kerja sama saling menguntungkan, seperti melibatkan guru tamu, program pemagangan, dan sertifikasi kompetensi.

"Terakhir, harapan kami adalah menuju konsep 'Teaching Factory'. Hidup bukan hanya tentang kehadiran, tapi juga makna yang bisa kita berikan, untuk keluarga, lingkungan, masyarakat, dan pendidikan di Indonesia secara umum, seperti gading yang ditinggalkan oleh gajah. Vokasi yang kuat akan memperkuat Indonesia," ucap dia.***