BEKASI.POJOKSATU.ID - Pemberlakuan pembelajaran jarak jauh bagi siswa PAUD, SD, dan SMP di Kota Bekasi akibat banjir dan cuaca ekstrem menyisakan tantangan besar di lapangan.
Di balik kebijakan belajar dari rumah demi keselamatan, muncul kekhawatiran terkait kesiapan infrastruktur dasar, mulai dari listrik, jaringan internet, hingga kondisi tempat tinggal siswa yang terdampak banjir.
Sejumlah wilayah di Kota Bekasi masih dilanda genangan air, bahkan sebagian rumah warga mengalami pemadaman listrik demi keamanan.
Baca Juga: 3.000 KK Mengungsi Akibat Banjir Sukawangi, Bayi dan Lansia Kekurangan Makanan
Kondisi ini berpotensi menghambat pelaksanaan PJJ yang sepenuhnya bergantung pada perangkat elektronik dan koneksi internet.
Tak sedikit orang tua mengaku kesulitan mendampingi anak belajar daring di tengah keterbatasan tersebut.
“Air masih masuk ke rumah, listrik sering mati. Anak saya mau ikut PJJ pakai apa?” keluh Rini, warga Bekasi Utara, Jumat 23 Januari 2026.
Baca Juga: Sekolah Bekasi Dikejutkan PJJ Mendadak, Guru Berpacu dengan Cuaca Ekstrem
Ia mengatakan ponsel yang biasa digunakan anaknya untuk belajar harus bergantian dengan anggota keluarga lain.
Masalah serupa juga dirasakan siswa yang tinggal di kawasan rawan banjir.
Selain akses internet yang tidak stabil, kondisi rumah yang lembap dan sempit membuat anak sulit berkonsentrasi.
Baca Juga: Sengketa Lahan Pemkab Bekasi di Babelan, Warga Lawan Dugaan Mafia Tanah Usai Putusan PN Cikarang
Beberapa siswa bahkan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat, sehingga kehilangan akses perangkat belajar.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengakui kebijakan PJJ di tengah kondisi darurat memang memiliki risiko. Namun menurutnya, keselamatan siswa tetap menjadi prioritas utama.
“Kalau dipaksakan masuk sekolah, risikonya lebih besar. Karena itu PJJ adalah pilihan paling aman saat ini,” ujarnya.
Meski demikian, Tri meminta Dinas Pendidikan dan sekolah untuk fleksibel menghadapi kendala di lapangan.
Ia menegaskan tidak boleh ada siswa yang dirugikan akibat keterbatasan teknis.
Baca Juga: Sidang Aanmaning Sengketa Lahan Pemkab Bekasi di PN Cikarang Belum Putus
“Saya minta sekolah memahami kondisi masing-masing siswa. Jangan disamakan semua,” katanya.
Dinas Pendidikan Kota Bekasi juga menginstruksikan sekolah untuk memberikan alternatif pembelajaran jika siswa mengalami gangguan listrik atau internet.
Kepala satuan pendidikan diminta aktif berkomunikasi dengan orang tua guna memetakan kendala yang dihadapi.
Baca Juga: Kecelakaan di Kalimalang, Pengendara Motor Tewas Usai Terjatuh di Genangan Banjir
“Kalau ada siswa tidak bisa online karena banjir atau listrik padam, sekolah wajib memberikan solusi. Bisa penugasan tertulis atau penyesuaian waktu,” demikian isi surat edaran Disdik Kota Bekasi.
Namun di lapangan, penerapan kebijakan ini tidak selalu mudah. Guru mengaku kesulitan memantau kehadiran dan partisipasi siswa secara merata.
“Ada yang tidak bisa dihubungi seharian karena sinyal hilang,” ujar seorang guru SMP negeri di Bekasi Selatan.
Baca Juga: Penilaian ITKP Pemkot Bekasi 2025 Raih Predikat Sangat Baik dari LKPP
Situasi ini menunjukkan bahwa PJJ di wilayah terdampak bencana bukan sekadar soal kesiapan sekolah, tetapi juga kesiapan lingkungan dan infrastruktur dasar.
Tanpa dukungan listrik dan internet yang stabil, pembelajaran daring berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan di tengah krisis.
Dengan cuaca ekstrem yang masih diprediksi BMKG, tantangan PJJ di Kota Bekasi diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Pemerintah daerah pun dituntut untuk terus mencari solusi agar hak belajar siswa tetap terpenuhi meski di tengah bencana.***




