BEKASI.POJOKSATU.ID - Kehadiran Trans Beken Koridor 1 rute Halte Harapan Indah–Terminal Bekasi menjadi babak baru transformasi transportasi di Kota Bekasi.
Namun, langkah modernisasi tersebut justru memunculkan penolakan dari sebagian sopir angkot yang merasa terdampak secara langsung.
Pemerintah Kota Bekasi menghadirkan Trans Beken sebagai bagian dari upaya menyediakan transportasi massal yang lebih nyaman, terjadwal, dan terintegrasi.
Baca Juga: Demo Sopir Angkot Lumpuhkan Jalan Ahmad Yani, Macet Mengular hingga Tol Bekasi Barat
Program ini diharapkan mampu mengurangi kemacetan, menekan penggunaan kendaraan pribadi, serta meningkatkan kualitas layanan angkutan umum di kota penyangga ibu kota tersebut.
Namun di sisi lain, operasional koridor baru itu memicu aksi demonstrasi sopir angkot yang khawatir kehilangan penumpang.
Mereka menilai trayek yang dilalui Trans Beken beririsan dengan jalur angkot yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Baca Juga: Bayi Dibuang Pasangan Kekasih di Bekasi Meninggal Saat Dirawat di RSUD
“Kalau rutenya sama, otomatis penumpang kami berkurang. Kami hanya ingin ada solusi, bukan langsung bersaing,” ujar salah satu sopir angkot, dikutip dari Radar Bekasi, 12 Februari 2026.
Fenomena ini menunjukkan tantangan klasik dalam proses modernisasi transportasi perkotaan, bagaimana mengintegrasikan moda lama dengan sistem baru tanpa mematikan mata pencaharian masyarakat.
Transformasi transportasi bukan hanya soal menghadirkan armada baru, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekonomi para pelaku transportasi eksisting.
Baca Juga: Apresiasi dan Penguatan Integritas, BPJS Ketenagakerjaan Optimalkan Layanan PLKK
Pengamat transportasi perkotaan menilai integrasi menjadi kunci.
Alih-alih bersaing, angkot dapat diarahkan menjadi feeder atau pengumpan yang mengantarkan penumpang ke halte atau koridor utama Trans Beken.
Skema ini telah diterapkan di sejumlah kota besar sebagai bagian dari sistem transportasi terpadu.
Modernisasi transportasi tidak boleh meninggalkan pelaku lama.
Pemerintah harus menyiapkan skema integrasi, termasuk penataan ulang trayek dan kemungkinan subsidi atau kemitraan.
Baca Juga: Trans Beken Bikin Penghasilan Turun 80 Persen, Sopir Angkot Bekasi Siap Demo Lagi
Selain itu, sosialisasi yang masif dan dialog terbuka antara pemerintah, operator bus, dan perwakilan sopir angkot dinilai penting untuk meredam gejolak.
Tanpa komunikasi yang efektif, kebijakan yang sejatinya bertujuan baik justru berpotensi menimbulkan konflik sosial.
Dalam jangka panjang, Kota Bekasi membutuhkan sistem transportasi yang terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Aksi Sopir Angkot Bikin Ahmad Yani Lumpuh, Polisi Terapkan Pengalihan Arus
Pertumbuhan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor yang terus meningkat menuntut solusi yang tidak parsial.
Transportasi massal seperti Trans Beken bisa menjadi langkah awal, namun harus dibarengi dengan penataan trayek, integrasi tarif, serta peningkatan kualitas layanan.
Transformasi transportasi memang tak pernah mudah. Setiap perubahan membawa konsekuensi dan penyesuaian.
Tantangannya kini adalah bagaimana Pemerintah Kota Bekasi mampu menjembatani kepentingan modernisasi dengan keberlangsungan ekonomi para sopir angkot, demi mewujudkan sistem transportasi kota yang adil dan berdaya saing.***




