BEKASI.POJOKSATU.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak awal Maret 2026 menjadi perhatian serius pelaku industri perjalanan ibadah.

Eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang turut menyeret kepentingan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap sektor umroh, khususnya menjelang puncak keberangkatan Ramadan.

Meski demikian, sejumlah pelaku usaha travel di Kota Bekasi mengklaim aktivitas pemberangkatan jamaah masih berjalan normal.

Baca Juga: KKA Bisa Jadi Ekstrakurikuler, Sekolah di Bekasi Diberi Fleksibilitas Terapkan AI

Salah satunya Travel Allia Kota Bekasi yang memastikan jadwal umroh pada 5, 6, dan 10 Maret tetap dilaksanakan tanpa perubahan.

Manager Business and Development Haji dan Umroh Travel Allia Kota Bekasi, Fajar Firmansyah, mengatakan hingga saat ini belum ada pembatalan maupun penjadwalan ulang akibat situasi konflik.

“Alhamdulillah ya, karena pesawat kami kan pakenya direct. Jadi dari Jakarta langsung Jeddah, ke Jakarta langsung Madinah. Begitu pun pulangnya, Jeddah ke Madinah langsung Jakarta. Jadi alhamdulillah sampai saat ini belum ada berdampak jamaah yang reschedule. Penerbangan yang di-cancel belum ada,” ujar Fajar, dikutip dari Radar Bekasi, Selasa 3 Maret 2026.

Baca Juga: Gerakan Indonesia ASRI Digelar di Kalimalang, Menteri LH dan Plt Bupati Bekasi Turun Langsung Pimpin Korve Massal

Menurutnya, potensi gangguan lebih besar terjadi pada maskapai dengan rute transit di sejumlah negara Timur Tengah seperti Qatar atau Uni Emirat Arab.

Sementara penerbangan langsung dinilai relatif aman dari perubahan jalur akibat konflik.

“Sebenarnya untuk Allia sendiri tidak ada masalah. Karena yang berdampak kan setahu saya yang transit ya. Transit ke Qatar, transit Doha, transit Dubai,” tambahnya.

Baca Juga: Program Indonesia Asri, Plt Bupati Bekasi dan Menteri LH Pimpin Korve Bersama di Kalimalang

Secara industri, situasi geopolitik memang kerap menjadi variabel penting dalam bisnis perjalanan religi.

Lonjakan ketegangan regional dapat memicu perubahan rute penerbangan, kenaikan premi asuransi, hingga fluktuasi harga tiket.

Ramadan sebagai musim puncak umroh membuat pelaku usaha harus ekstra cermat memantau perkembangan keamanan dan kebijakan maskapai.

Fajar menuturkan, hingga kepulangan jamaah pada 1 Maret lalu seluruh proses berjalan sesuai jadwal tanpa hambatan. Ia juga optimistis jadwal kepulangan berikutnya tetap lancar.

“Alhamdulillah, tidak ada yang terdampak, kemarin kepulangan tanggal 1, alhamdulillah aman. Insya Allah juga nanti kepulangan tanggal 8 Maret ini juga insya Allah aman,” katanya.

Baca Juga: Lurah Burangkeng Protes Jalan Licin Dampak Proyek Tol Japek 2 Selatan

Di tengah dinamika global tersebut, pelaku industri umroh di daerah memilih bersikap adaptif dengan terus memantau perkembangan situasi internasional dan kebijakan penerbangan.

Stabilitas rute direct menjadi salah satu strategi mitigasi risiko agar kepercayaan jamaah tetap terjaga.

Konflik regional memang menghadirkan ketidakpastian, namun hingga awal Ramadan 2026, bisnis perjalanan ibadah di Bekasi masih menunjukkan ketahanan.

Baca Juga: Prioritaskan DTSEN, Pasar Murah Bekasi Dijaga Ketat Agar Tepat Sasaran dan Tanpa Bantuan Dobel

Meski demikian, pelaku industri tetap waspada terhadap kemungkinan eskalasi lanjutan yang dapat memengaruhi operasional penerbangan maupun regulasi perjalanan internasional.

Bagi calon jamaah, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa faktor geopolitik dapat berdampak pada perjalanan ibadah.

Namun untuk saat ini, setidaknya di Bekasi, denyut industri umroh Ramadan masih berdetak stabil di tengah panasnya situasi Timur Tengah.