BEKASI.POJOKSATU.id – Kecelakaan kereta api yang melibatkan Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 21.00 WIB menyisakan trauma bagi para penumpang.
Salah satu saksi mata, Heriyati, penumpang Commuter Line, mengungkapkan detik-detik sebelum insiden terjadi. Ia menyebut kereta sempat berhenti dan membuka pintu setibanya di lokasi.
“Tadi pas sudah sampai sini, pintu sudah kebuka, terus ketutup lagi. Mau jalan sedikit, kebuka lagi,” ujarnya.
Menurut Heriyati, saat itu sempat beredar informasi adanya kendala di jalur depan, bahkan disebutkan adanya kendaraan terseret di wilayah Ampera. Ia pun memutuskan turun lebih awal di Bekasi Timur dan menghubungi suaminya untuk dijemput.
“Belum kelar teleponan sama suami, itu kereta nabrak,” katanya.
Heriyati mengaku beruntung telah keluar dari kereta sesaat sebelum tabrakan terjadi. Ia menyebut benturan yang terjadi sangat keras hingga membuat sejumlah penumpang terpental di dalam gerbong.
“Bukan keras lagi. Keras banget. Itu yang di gerbong banyak yang mental. Untungnya saya sudah di luar,” tuturnya.
Ia juga melihat banyak korban mengalami luka, terutama di gerbong bagian belakang tempat ia sebelumnya berada.
“Saya lihat korban banyak. Di gerbong sebelah, di belakang saya, banyak ibu-ibu yang cedera,” ungkapnya.
Saat kejadian, kondisi kereta disebut cukup padat, dengan sejumlah penumpang masih berdiri, terutama di gerbong khusus wanita.
Baca Juga: Data Sementara Tabrakan Maut Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Korban Tewas 30 Orang
Heriyati memastikan bahwa Commuter Line yang ditumpanginya ditabrak dari arah belakang oleh kereta jarak jauh.
“Ditabrak dari belakang, sama kereta luar kota, kereta Jawa itu,” jelasnya.
Meski selamat tanpa luka fisik, Heriyati mengaku masih mengalami syok akibat kejadian tersebut.
“Masih syok. Tadi nelpon suami juga nggak bisa ngomong, cuma teriak-teriak,” katanya.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait.***




