BEKASI.POJOKSATU.ID - Pemerintah Kabupaten Bekasi mengambil langkah strategis dalam pengelolaan sampah dengan menggandeng investor swasta untuk merealisasikan proyek pengolahan sampah bernilai ratusan miliar rupiah.

Menariknya, kerja sama ini dipastikan tidak akan membebani APBD karena menggunakan skema investasi mandiri tanpa tipping fee.

Langkah ini dinilai sebagai terobosan penting di tengah persoalan penumpukan sampah yang terus meningkat, khususnya di TPA Burangkeng.

DLH Kabupaten Bekasi bersama investor bahkan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi guna memastikan kesiapan teknis proyek.

Baca Juga: TP PKK Kota Bekasi Monitoring Posyandu, Pastikan Penerapan 6 SPM Berjalan Optimal

Kepala Bidang Persampahan DLH Kabupaten Bekasi, Mansyur Sulaeman, menegaskan bahwa seluruh aspek teknis menjadi perhatian utama sebelum proyek dijalankan.

Mulai dari kesiapan lahan, kondisi sampah yang ada, hingga akses alat berat telah dipetakan secara detail.

“Peninjauan ini untuk memastikan kesiapan di lapangan, baik dari sisi ketersediaan lahan, akses, hingga kondisi sampah existing yang akan diolah. Semua harus dihitung secara matang,” ujarnya, dikutip dari Radar Bekasi, 14 April 2026.

Ia menjelaskan, kerja sama ini tidak berarti pengelolaan TPA diserahkan kepada pihak swasta.

Baca Juga: Perbedaan Mencolok Terungkap! KBIH Terfasilitasi, Jemaah Haji Mandiri Butuh Dukungan Lebih Serius

Pemerintah tetap memegang kendali, sementara investor hanya berperan dalam pengolahan sampah menggunakan teknologi modern agar memiliki nilai tambah.

“Bukan TPA-nya diserahkan, tapi sampah existing yang akan diolah menggunakan teknologi. Ini penting untuk mengurangi beban penumpukan,” jelas Mansyur.

Dalam proyek ini, teknologi RDF akan digunakan untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan industri, seperti pabrik semen.

Kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai 1.000 ton per hari, menjadikannya salah satu proyek strategis di sektor lingkungan.

Selain tidak membebani APBD, pemerintah daerah juga berpotensi mendapatkan pemasukan tambahan melalui skema sewa lahan yang digunakan investor.

Hal ini menjadikan proyek tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi daerah.

Meski demikian, Mansyur mengakui terdapat tantangan dalam menjaga stabilitas pasokan sampah agar sesuai dengan kapasitas pengolahan.

Baca Juga: Tak Perlu Antre Subuh! Kini Klaim JHT Bisa Pilih Jam Sendiri, Peserta BPJS Cikarang Dimanjakan Sistem Baru

Oleh karena itu, sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah juga tengah dipersiapkan secara matang.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mendukung program ini dengan mulai memilah sampah dari rumah.

Langkah sederhana tersebut diyakini dapat meningkatkan efektivitas pengolahan sekaligus mengurangi beban TPA.

“Kalau dari rumah sudah dipilah, yang masuk ke TPA hanya residu. Ini akan sangat membantu efektivitas pengolahan dan memperpanjang umur TPA,” pungkasnya.***