BEKASI.POJOKSATU.ID - Ancaman banjir dan longsor di sepanjang Kali Bekasi kembali menjadi perhatian serius.
Sejumlah titik di bantaran sungai kini masuk kategori rawan dan membutuhkan penanganan cepat, terutama saat musim hujan memicu lonjakan debit air kiriman dari hulu.
Beberapa lokasi yang teridentifikasi rawan antara lain kawasan wisata Hutan Bambu dan Gang Mawar di Kelurahan Margahayu, area sekitar Lotte di Kelurahan Margajaya, serta Kampung Lebak di Kelurahan Teluk Pucung.
Baca Juga: 200 Reklame Ilegal Ditertibkan, Satpol PP Bekasi Targetkan Kota Bebas Iklan Liar
Titik-titik tersebut dinilai rentan terhadap erosi bantaran, luapan air, hingga potensi longsor yang bisa mengancam keselamatan warga dan aktivitas ekonomi.
Belum lama ini, longsor terjadi di kawasan Hutan Bambu saat tinggi muka air Kali Bekasi meningkat signifikan.
Tanah di bantaran sungai tergerus arus deras, sehingga pengelola terpaksa menutup sementara lokasi wisata tersebut demi keamanan pengunjung.
Peristiwa itu menjadi alarm keras bahwa kawasan bantaran membutuhkan perlindungan lebih serius.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, Idi Sutanto, menjelaskan bahwa pihaknya telah melaporkan kondisi tanggul yang tergerus serta titik-titik rawan tersebut kepada Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).
Menurutnya, Kali Bekasi merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Baca Juga: Dari Anak-Anak hingga Ibu-Ibu, 500 Warga Kalijaya Kompak Nyalakan Obor Sambut Ramadan 1447 H
“Kalau Kali Bekasi itu kewenangannya di BBWSCC. Tahun ini mereka sudah menganggarkan penurapan permanen di beberapa titik,” ujar Idi.
Selain Hutan Bambu, kawasan Gang Mawar juga menjadi perhatian karena terdapat permukiman warga yang berdiri relatif dekat dengan aliran sungai.
Di wilayah sekitar Lotte Margajaya, potensi erosi dinilai dapat mengancam infrastruktur dan aktivitas masyarakat.
Sementara di Kampung Lebak, Teluk Pucung, warga sudah lama menghadapi risiko luapan air saat debit meningkat.
Menurut Idi, anggaran konstruksi untuk pembangunan tanggul permanen sebenarnya telah tersedia.
Baca Juga: Belum Ada Laporan Korban, Polisi Tetap Usut Kasus Begal Payudara di Cikarang
Namun, pelaksanaan fisik di lapangan masih menunggu penyelesaian persoalan lahan di sepanjang bantaran.
“Anggaran konstruksi sudah ada. Asalkan lahannya clear, mereka langsung masuk. Memang di beberapa titik ada tanah milik warga, ada juga milik negara atau PJT II,” jelasnya.
Pemkot Bekasi sendiri telah mendata sejumlah lahan yang berstatus milik pemerintah, termasuk di kawasan Hutan Bambu dan sekitar Lotte.
Baca Juga: Polsek Bekasi Utara Berhasil Ungkap Curanmor, Motor Hilang Rp32 Juta Dikembalikan ke Pemilik
Upaya penertiban bangunan di bantaran sungai juga terus dilakukan untuk meminimalkan risiko.
Pemetaan risiko secara menyeluruh dinilai menjadi langkah penting agar penanganan tidak bersifat parsial.
Dengan data yang akurat, prioritas pembangunan tanggul dan normalisasi sungai dapat dilakukan secara terarah dan efektif.
Dengan musim hujan yang masih berpotensi meningkatkan debit air secara tiba-tiba, warga di sepanjang Kali Bekasi diimbau tetap waspada.
Percepatan pembangunan tanggul permanen dan normalisasi sungai diharapkan mampu menekan risiko banjir serta longsor berulang yang selama ini menghantui kawasan bantaran.***




