BEKASI.POJOKSATU.ID - Di balik megahnya kawasan industri Deltamas dan pesatnya pembangunan di Kabupaten Bekasi, terdapat sebuah jalur sederhana yang menyimpan cerita panjang tentang perubahan zaman.

Warga setempat mengenalnya sebagai “Terowongan Sapi”, sebuah lorong beton di Desa Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, yang dahulu menjadi akses utama para penggembala.

Kini, jalur tersebut lebih dikenal sebagai rute alternatif para pekerja pabrik yang ingin menghindari kemacetan di Jalan Tegal Danas.

Baca Juga: Dari Anak-Anak hingga Ibu-Ibu, 500 Warga Kalijaya Kompak Nyalakan Obor Sambut Ramadan 1447 H

Namun jauh sebelum deru mesin sepeda motor dan mobil pekerja industri memenuhi lorong itu, Terowongan Sapi adalah bagian dari lanskap pedesaan yang tenang, dikelilingi sawah dan padang rumput.

Nama “Terowongan Sapi” bukan sekadar julukan tanpa makna. Sebutan itu lahir dari aktivitas warga yang setiap hari melintas untuk menggembalakan ternak.

Dedi (54), seorang penggembala yang telah puluhan tahun beraktivitas di wilayah tersebut, menjadi saksi hidup perubahan besar yang terjadi.

Baca Juga: Belum Ada Laporan Korban, Polisi Tetap Usut Kasus Begal Payudara di Cikarang

“Jalan itu udah lama jadi akses warga buat ngangon jauh sebelum ada Deltamas. Saya setiap hari lewat jalan ini ngangon kambing karena masih banyak rumput-rumput liar di pinggir tol,” tutur Dedi.

Menurutnya, sebelum kawasan industri berdiri, wilayah itu didominasi permukiman sederhana dan lahan pertanian.

Sawah membentang luas, dan kehidupan warga berpusat pada sektor agraris serta peternakan kecil-kecilan.

Baca Juga: 350 Jamaah Padati Masjid Al Manar di Malam Pertama Tarawih 1447 H

Terowongan itu menjadi penghubung penting antarwilayah desa, sekaligus jalur ternak menuju padang rumput.

Namun, perubahan mulai terasa ketika pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek berkembang dan kawasan industri mulai masuk ke Cikarang.

Lahan-lahan pertanian perlahan beralih fungsi menjadi kawasan pabrik, gudang, dan kompleks perkantoran modern.

“Dulu di sini itu ada permukiman sama sawah sebelum dibangun jadi kawasan Deltamas. Sekarang sudah jadi gedung-gedung semua,” ujar Dedi mengenang.

Transformasi tersebut membawa dampak besar bagi masyarakat lokal.

Baca Juga: Polsek Bekasi Utara Berhasil Ungkap Curanmor, Motor Hilang Rp32 Juta Dikembalikan ke Pemilik

Sebagian warga beralih profesi menjadi pekerja pabrik atau membuka usaha pendukung industri.

Aktivitas ekonomi meningkat, tetapi wajah desa pun berubah drastis. Ruang terbuka hijau yang dulu menjadi tempat menggembala kini berganti beton dan aspal.

Meski demikian, Terowongan Sapi tetap bertahan sebagai saksi bisu perjalanan waktu.

Baca Juga: Kapolres Pimpin Sertijab Pejabat Utama Polres Metro Bekasi Kota, Sejumlah Posisi Strategis Berganti

Fungsinya memang berubah, dari jalur ternak menjadi urat nadi mobilitas pekerja industri.

Setiap pagi dan sore, ratusan kendaraan melintas, memanfaatkan jalur alternatif untuk memangkas waktu tempuh.

Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, Terowongan Sapi menjadi pengingat bahwa setiap sudut wilayah industri memiliki akar sejarah yang panjang.

Dari padang rumput hingga kawasan industri raksasa, perubahan itu tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga transformasi sosial dan ekonomi masyarakat yang hidup di sekitarnya.***