BEKASI.POJOKSATU.ID - Kasus suspek campak di Kota Bekasi mengalami lonjakan signifikan pada awal tahun 2026.
Dinkes Kota Bekasi mencatat sebanyak 1.414 kasus suspek campak hingga pekan ke-9 tahun ini.
Lonjakan tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang libur Lebaran ketika mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat tajam.
Aktivitas berkumpul keluarga besar serta perjalanan antarwilayah dinilai berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit menular.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bekasi, Vevie Herawati, mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan verifikasi serta pengujian laboratorium untuk memastikan jumlah kasus yang benar-benar terkonfirmasi positif campak.
“Dinkes terus melakukan verifikasi dan uji laboratorium untuk memastikan jumlah kasus konfirmasi positif,” ujar Vevie, Kamis 12 Maret 2026.
Menurutnya, temuan ratusan hingga ribuan kasus suspek dalam waktu relatif singkat membuat Dinas Kesehatan segera mengambil sejumlah langkah mitigasi.
Salah satunya adalah melakukan penyelidikan epidemiologi atau pelacakan kasus di wilayah yang ditemukan pasien dengan gejala campak.
Baca Juga: Stasiun Bekasi Mulai Dipadati Pemudik, 6.389 Orang Berangkat Naik Kereta
Melalui langkah tersebut, petugas kesehatan berupaya mengidentifikasi sumber penularan sekaligus memutus rantai penyebaran penyakit di tingkat lingkungan.
Selain melakukan pelacakan kasus, pemerintah daerah juga mempercepat program imunisasi Measles Rubella melalui puskesmas dan posyandu di berbagai wilayah Kota Bekasi.
Program ini difokuskan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap.
“Khususnya menyisir anak-anak yang status imunisasinya belum lengkap,” kata Vevie.
Langkah pencegahan lain yang dilakukan adalah pemberian vitamin A dosis tinggi kepada balita.
Program tersebut bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh anak sekaligus mencegah risiko komplikasi serius apabila anak terinfeksi virus campak.
Dinkes Kota Bekasi juga memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit daerah.
Agar mampu menangani pasien dengan gejala campak sesuai dengan standar medis yang berlaku.
Campak sendiri dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular. Virus dapat menyebar melalui udara, percikan air ludah saat batuk atau bersin, serta kontak dekat dengan penderita.
Karena tingkat penularannya yang tinggi, imunisasi menjadi langkah perlindungan paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
“Imunisasi adalah tameng utama untuk mencegah campak,” ujar Vevie.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap gejala awal campak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam kemerahan pada kulit.
Jika anak mengalami gejala tersebut, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat dan mengurangi interaksi dengan anak lain guna mencegah penularan lebih luas.
“Kurangi interaksi dengan anak lain agar rantai penularan dapat diputus,” katanya.***




