BEKASI.POJOKSATU.ID - Pelaku usaha warteg di Kota Bekasi tengah menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga plastik yang mencapai hingga 60 persen.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang harus bertahan meski omzet usaha tidak mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini memaksa pelaku UMKM untuk beradaptasi agar tetap bisa menjalankan usaha tanpa harus kehilangan pelanggan.
Kenaikan biaya operasional yang cukup tajam menjadi tantangan utama, terutama karena harga jual makanan tidak bisa dengan mudah dinaikkan.
Baca Juga: Infrastruktur Jadi Sorotan, Bekasi Ajukan Pembangunan 38 Km Jalan Lingkungan
Salah satu pelaku usaha warteg, Muhammad Saefudin, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sangat terasa dampaknya dalam aktivitas sehari-hari.
“Rata-rata kenaikan sekitar 60 persen. Seperti plastik PE ukuran setengah kilogram yang sebelumnya Rp9 ribu jadi Rp16.500,” ujarnya, dikutip dari Radar Bekasi, 16 April 2026.
Menurutnya, kondisi ini semakin sulit karena dalam dua bulan terakhir omzet warteg tidak mengalami kenaikan.
Hal tersebut membuat ruang untuk menyesuaikan harga menjadi sangat terbatas.
Baca Juga: Pasar Murah hingga HAJATAN di Bekasi Disambut Antusias, Program Pangan Kian Dirasakan Warga
“Menaikkan harga itu sangat beresiko, karena kalau warteg itu kenaikan harga seribu saja per item sangat berpengaruh,” katanya.
Tak hanya plastik, beberapa bahan pendukung lainnya juga mengalami kenaikan harga sekitar 10 persen, seperti kertas nasi, ayam potong, dan sayur-mayur. Situasi ini semakin mempersempit margin keuntungan yang diperoleh pedagang.
Meski demikian, pelaku usaha warteg tidak tinggal diam. Berbagai strategi dilakukan untuk menekan biaya tanpa harus mengorbankan pelanggan.
Salah satunya dengan mengubah pola pengemasan makanan agar penggunaan plastik bisa diminimalkan.
“Kalau saya di warteg biasanya ada yang minta satu item satu plastik, saya siasati jadi satu. Misalnya mi sama kentang itu bisa dicampur,” jelasnya.
Langkah ini dinilai sebagai upaya bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Pedagang berusaha menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional dan kepuasan pelanggan agar usaha tetap berjalan.
Baca Juga: Tawuran Berdarah di Babelan Libatkan Anak di Bawah Umur, Polisi Imbau Orang Tua Awasi Media Sosial
Di sisi lain, pemerintah tengah berupaya mencari solusi untuk menstabilkan harga plastik, salah satunya dengan membuka alternatif pasokan bahan baku dari luar negeri.
Namun, bagi pelaku UMKM, kondisi saat ini tetap menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi setiap hari.
Ketahanan para pelaku usaha kecil ini menunjukkan bagaimana sektor UMKM terus berjuang di tengah tekanan ekonomi.
Meski dihimpit kenaikan biaya dan stagnasi omzet, warteg tetap bertahan dengan berbagai cara demi menjaga keberlangsungan usaha dan memenuhi kebutuhan masyarakat.***




