BEKASI.POJOKSATU.id - Pemerintah Kota Bekasi memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan sampah melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Darat. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian pengelolaan sampah antara pemerintah daerah dan TNI AD.
Penandatanganan berlangsung di Aula Letjen TNI GPH Djati Kusumo, Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta. Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menandatangani perjanjian tersebut bersama Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan disaksikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
Kerja sama ini dilakukan di tengah persoalan pengelolaan sampah nasional yang masih menjadi tantangan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024, terdapat sekitar 22,17 juta ton sampah yang belum dikelola secara optimal. Lebih dari 54 persen sampah masih ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) dengan sistem open dumping.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan menyampaikan pemerintah tengah mendorong pemanfaatan timbunan sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai salah satu sumber energi terbarukan.
Program tersebut akan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta TNI.
Baca Juga: Truk Tronton Tabrak Livina hingga Terdorong ke Jalur Berlawanan di Bantargebang, Pengemudi Meninggal
“Sebelumnya sampah diubah menjadi listrik, sekarang kita kerja sama lagi (sampah jadi BBM) atau energi terbarukan dengan TNI, teknologinya dari BRIN dan Dikti,” ujar Zulhas.
Menurut Zulhas, pengolahan sampah menjadi BBM merupakan bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional. Jika sebelumnya pemerintah mendorong program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), kini timbunan sampah lama di TPA juga diarahkan untuk diolah menjadi BBM menggunakan teknologi pirolisis.
Teknologi pirolisis memanfaatkan proses pemanasan bersuhu tinggi untuk mengurai material sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai guna, termasuk bahan bakar.
Zulhas mengatakan pendekatan tersebut berbeda dengan PSEL. Program PSEL memanfaatkan sampah baru yang masuk setiap hari, sedangkan teknologi pirolisis menyasar timbunan sampah lama yang telah menumpuk di TPA.
“Kita sudah punya sampah yang menggunung, setinggi gedung 16 lantai. Seperti di Bantargebang. Itu sekarang yang pakai pirolisis. Tumpukan sampah yang tinggi-tinggi itu akan diolah menjadi BBM,” katanya.
Ia menambahkan, timbunan sampah nasional diperkirakan mencapai 146.780 ton per hari pada 2029. Untuk mengantisipasi peningkatan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah pendekatan teknologi pengolahan sampah.
Baca Juga: Pedagang di Jalan Mohamad Yamin Bekasi Segera Direlokasi, Pemkot Tunggu Fasilitas Pasar Siap
Sebanyak 12,4 persen sampah ditargetkan diolah melalui pengolahan organik di sumbernya. Kemudian 19,8 persen melalui TPS-3R atau Reduce, Reuse, Recycle di bank sampah induk.
Selanjutnya, 25,3 persen diarahkan untuk diolah melalui TPST RDF (Refuse Derived Fuel), 20 persen menggunakan teknologi pirolisis, dan 22,5 persen sisanya melalui proyek PSEL.
“Sampah tidak lagi sebagai beban, tetapi sebagai sumber energi dan bagian dari cita-cita kemandirian energi nasional,” ujar Zulhas.
Sementara itu, Abdul Harris Bobihoe menyambut positif kerja sama antara pemerintah daerah dan TNI AD tersebut. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari solusi untuk menghadapi persoalan sampah sekaligus mengembangkan sumber energi terbarukan.
Baca Juga: 83,10 Persen Pemuda Bekasi Tidak Merokok, Tertinggi di Jawa Barat
Namun, ia menilai penggunaan teknologi perlu dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Berkolaborasi dengan memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan tentunya kami sangat menyambut baik, dan ini juga harus dibarengi dengan pola kehidupan di masyarakat kita, dengan pemilahan sampah dari rumah tangga,” kata Harris.
Ia mengajak masyarakat ikut berperan dalam pengelolaan sampah dengan memulai pemilahan dari sumbernya. Menurutnya, kebiasaan tersebut penting untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
“Berkolaborasi untuk masa depan yang lebih baik, untuk generasi kita selanjutnya. Maka mari wariskan budaya pengelolaan sampah dengan sebijak mungkin,” pungkasnya.***




