BEKASI.POJOKSATU.ID - Pemerintah Kota Bekasi mulai menggeser fokus pengelolaan sampah dari hilir ke hulu dengan mendorong penguatan bank sampah di tingkat masyarakat.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan Tempat Pembuangan Akhir Sumur Batu yang kini telah mengoperasikan sistem sanitary landfill.
Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Andy Frengky, menegaskan bahwa keberhasilan sistem sanitary landfill sangat bergantung pada pengurangan volume sampah sejak dari sumbernya.
Baca Juga: Berkali-kali Jebol, Tanggul Darurat di Muara Gembong Kian Mengkhawatirkan
Tanpa pemilahan dari rumah tangga, kapasitas landfill berisiko cepat penuh.
“Kami dorong masyarakat mulai memilah sampah dari rumah dan mengurangi penggunaan bahan sekali pakai. Pengelolaan dari hulu sangat menentukan,” ujar Andy.
Dengan pendekatan tersebut, truk pengangkut sampah diharapkan hanya membawa sampah residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan.
Baca Juga: Gerai Koperasi Merah Putih Hadir di Kabupaten Bekasi, Dorong Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan
Sementara itu, sampah bernilai ekonomi seperti plastik, kertas, dan logam dapat dikelola langsung oleh masyarakat melalui bank sampah di lingkungan masing-masing.
Pegiat lingkungan, Sony Teguh Trilaksono, menilai penguatan bank sampah merupakan kunci utama agar sistem pengelolaan sampah di Kota Bekasi bisa berkelanjutan.
Menurutnya, metode sanitary landfill hanya akan efektif jika dibarengi perubahan pola pengelolaan di tingkat warga.
Baca Juga: Polsek Pondokgede Ngobrol Bareng Warga, Ajak Waspadai Kejahatan dan Gangguan Kamtibmas
“Truk seharusnya hanya mengambil residu. Selebihnya diselesaikan di hulu lewat bank sampah dan pemilahan,” tegas Sony.
Ia mengingatkan, produksi sampah Kota Bekasi yang mencapai sekitar 1.800 ton per hari menjadi tantangan besar jika tidak ada pengurangan signifikan dari sumber.
Dengan volume sebesar itu, daya tampung landfill yang tersedia saat ini dinilai tidak akan bertahan lama.
“Kalau tidak ada pemilahan di sumber, tetap saja cepat penuh. Metode apa pun tidak akan cukup menampung sampah sebanyak itu,” ujarnya.
Sony juga menekankan pentingnya peran bank sampah sebagai sarana edukasi sekaligus pemberdayaan ekonomi warga.
Baca Juga: Pemkot Bekasi Paparkan Tantangan Kepadatan dan Sampah dalam RTRW Kota Bekasi
Selain mengurangi beban TPA, bank sampah dinilai mampu menumbuhkan kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar.
Di sisi lain, Pemkot Bekasi terus menggencarkan sosialisasi pemilahan sampah dan penguatan bank sampah di tingkat RW.
Pemerintah berharap partisipasi aktif masyarakat dapat menekan volume sampah yang masuk ke TPA dan mencegah terulangnya krisis lingkungan seperti sebelumnya.
Peralihan sistem pengelolaan sampah ini menandai upaya Pemkot Bekasi membangun ekosistem persampahan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Namun, keberhasilan langkah tersebut kini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kesadaran warga dalam mengelola sampah sejak dari rumah.***




