BEKASI.POJOKSATU.ID - Peristiwa longsor gunungan sampah di Zona IV Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, menyisakan duka mendalam setelah seluruh korban berhasil ditemukan oleh tim pencarian dan pertolongan.
Dari total 13 korban dalam insiden tersebut, tujuh orang dinyatakan meninggal dunia sementara enam lainnya berhasil selamat.
Tragedi yang terjadi di kawasan pengolahan sampah terbesar di wilayah Jabodetabek itu melibatkan para pekerja yang berada di sekitar lokasi.
Baca Juga: 300 Paket Perbaikan Jalan Disiapkan Pemkot Bekasi pada 2026
Termasuk sopir truk pengangkut sampah serta warga yang berada di area tersebut saat longsor terjadi.
Korban meninggal dunia terdiri dari tujuh orang dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda.
Dua di antaranya merupakan pemilik warung yang berada di sekitar lokasi kejadian, yaitu Enda Widayanti dan Sumine.
Baca Juga: Pemkot Bekasi Percepat Perbaikan Jalan Jelang Mudik Lebaran 2026
Selain itu, empat korban lainnya diketahui berprofesi sebagai sopir truk yang tengah beraktivitas di area TPST Bantargebang ketika longsor terjadi.
Mereka adalah Dedi Sutrisno, Irwan Supriatin, Hardianto, serta Riki Supriadi alias Buyung.
Satu korban meninggal lainnya adalah Jussova Situmorang (38), seorang warga yang berada di sekitar lokasi saat insiden tersebut terjadi.
Sementara itu, enam orang berhasil selamat dari peristiwa longsor tersebut.
Mereka adalah Budiman, Johan, Safifudin, dan Slamet yang juga berprofesi sebagai sopir truk pengangkut sampah. Dua korban selamat lainnya merupakan warga setempat bernama Ato dan Dofir.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menyampaikan bahwa seluruh korban dalam insiden longsor tersebut telah berhasil ditemukan setelah proses pencarian yang berlangsung intensif.
“Sudah ditemukan semuanya. Malam ini telah kami tutup operasinya,” kata Desiana, dikutip dari Radar Bekasi, 10 Maret 2026.
Menurutnya, proses pencarian korban dilakukan dengan mengerahkan berbagai metode evakuasi untuk memastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun di bawah gunungan sampah.
Baca Juga: Wali Kota Bekasi: APBD 2026 Sudah Disusun, THR PPPK Paruh Waktu Belum Bisa Dianggarkan
Selama operasi berlangsung, tim SAR menggunakan alat berat untuk membantu membuka timbunan sampah yang menutupi area pencarian.
Selain itu, anjing pelacak atau K9 juga diterjunkan untuk membantu mendeteksi keberadaan korban.
Teknologi pencarian juga dimanfaatkan oleh tim gabungan, salah satunya dengan menggunakan drone thermal yang dapat mendeteksi panas tubuh dari udara.
“Pencarian juga dilakukan dengan menggunakan drone thermal. Hal ini kita lakukan untuk penyisiran melalui udara dengan mendeteksi panas tubuh,” jelas Desiana.
Operasi pencarian korban longsor tersebut melibatkan sebanyak 336 personel SAR gabungan dari berbagai instansi.
Mereka terdiri dari unsur Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Palang Merah Indonesia, serta sejumlah relawan dan organisasi kemanusiaan lainnya.
Baca Juga: Pemkab Bekasi Dukung Program 3 Juta Rumah Lewat Pembangunan Rusun Subsidi di Meikarta
Selain itu, dukungan dari Sat Brimob Polda Metro Jaya, Ditsamapta Polda Metro Jaya, Unit K9 Polda Metro Jaya, serta Unit Siaga SAR Bekasi turut memperkuat proses pencarian di lapangan.
Tragedi longsor gunungan sampah ini menjadi pengingat akan risiko pekerjaan yang dihadapi para pekerja di kawasan TPST Bantargebang.
Kejadian tersebut juga menyoroti pentingnya peningkatan sistem keselamatan kerja dan pengelolaan area pengolahan sampah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.***




