BEKASI.POJOKSATU.ID - Media sosial kembali menjadi ruang komunikasi publik yang efektif antara pemerintah dan masyarakat.

Kali ini, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menunjukkan respons cepat terhadap kasus pencurian yang menimpa seorang pedagang nasi uduk lanjut usia, Atnah (65), dengan membagikan langsung momen kunjungannya melalui akun Instagram pribadinya @mastriadhianto.

Kunjungan tersebut dilakukan di kediaman Atnah di RT 04 RW 03, Kelurahan Jatiwarna, Kamis 19 Februari 2026, dua hari setelah peristiwa pencurian terjadi di Jalan Bulak Tinggi, Pondok Melati.

Baca Juga: Tri Adhianto Tegaskan Komitmen Sukseskan Porprov 2026, Gedung Olahraga Lima Lantai Ditarget Rampung

Dalam unggahannya, Tri memperlihatkan dirinya duduk berbincang langsung dengan Atnah, mendengarkan cerita tentang bagaimana uang Rp700 ribu miliknya raib dibawa pria tak dikenal yang berpura-pura menjadi pembeli.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk transparansi pemimpin daerah dalam merespons persoalan warga.

Alih-alih hanya menyampaikan pernyataan resmi, Tri memilih hadir langsung dan membagikan proses tersebut kepada publik melalui media sosial.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Bantah Jembatan Grand Galaxy Jadi Penyebab Banjir PML, Target Tanggul Rampung Usai Lebaran

“Bagi sebagian orang, Rp700 ribu mungkin kecil. Bagi pedagang kecil, itu modal hidup,” tulis Tri dalam unggahan di Instagram pribadinya.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan warganet dan memperlihatkan bagaimana komunikasi digital dapat memperkuat empati publik terhadap korban.

Tidak hanya menyampaikan simpati, Tri juga menyerahkan bantuan dana dan berjanji menyediakan etalase agar Atnah dapat kembali berjualan.

Baca Juga: Pengendara Motor Meninggal Dunia Terlindas Truk di Jalan Raya Fatahilah

Kasus ini menunjukkan bagaimana media sosial berfungsi sebagai kanal percepatan respons pemerintah.

Informasi yang beredar luas di ruang digital mendorong perhatian publik, sekaligus menuntut kehadiran konkret dari pemimpin daerah.

Dalam konteks ini, Instagram tidak sekadar menjadi platform pencitraan, tetapi juga sarana transparansi dan akuntabilitas.

Tri juga menyampaikan bahwa ia telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian agar kasus tersebut segera ditindaklanjuti.

“Semoga kejadian ini tidak terulang. Saya sudah minta Pak Kapolres untuk segera menindaklanjuti pelaku dan jadi evaluasi kita bersama dalam menjaga lingkungan agar meminimalisir segala bentuk kejahatan,” tulisnya.

Baca Juga: Pemkot Koordinasi dengan Pusat dan Provinsi, Jalan Nasional Ditargetkan Mulus Sebelum Lebaran

Pernyataan terbuka melalui media sosial tersebut memperlihatkan model komunikasi publik yang lebih langsung dan personal.

Masyarakat tidak hanya menerima informasi akhir berupa kebijakan, tetapi dapat melihat proses respons yang dilakukan pemerintah.

Fenomena ini mencerminkan perubahan pola komunikasi pemerintahan di era digital.

Baca Juga: Ini Daftar Ruas Jalan Provinsi di Bekasi yang Rusak Parah Usai Diguyur Hujan, Lubang Capai 20 CM

Pemimpin daerah kini dituntut lebih adaptif, responsif, dan terbuka dalam menyikapi persoalan warga.

Media sosial menjadi jembatan antara laporan masyarakat, perhatian publik, dan tindakan nyata di lapangan.

Bagi Atnah, perhatian tersebut memberi harapan untuk kembali berdagang setelah sempat berhenti karena kehilangan modal.

Bagi pemerintah, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keamanan lingkungan sekaligus memperkuat perlindungan bagi pelaku usaha mikro.

Kisah ini menunjukkan bahwa komunikasi publik digital bukan sekadar soal kecepatan menyampaikan informasi.

Tetapi juga tentang membangun kepercayaan melalui tindakan nyata yang dapat disaksikan langsung oleh masyarakat luas.***