BEKASI.POJOKSATU.ID - Ancaman banjir dan longsor di sepanjang Kali Bekasi kini tak hanya memicu kekhawatiran warga bantaran sungai, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Longsor yang terjadi di kawasan wisata Hutan Bambu, Kelurahan Margahayu, belum lama ini memaksa pengelola menutup sementara lokasi tersebut demi keselamatan pengunjung.
Peristiwa itu terjadi saat tinggi muka air Kali Bekasi melonjak akibat kiriman air dari hulu.
Baca Juga: Dari Anak-Anak hingga Ibu-Ibu, 500 Warga Kalijaya Kompak Nyalakan Obor Sambut Ramadan 1447 H
Tanah di bantaran sungai tergerus hingga menyebabkan longsor yang cukup parah. Penutupan kawasan wisata menjadi langkah antisipasi agar tidak menimbulkan korban.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang menggantungkan penghasilan dari ramainya kunjungan wisatawan.
Pedagang makanan, minuman, hingga penyedia jasa rekreasi terpaksa menghentikan aktivitas sementara waktu.
Baca Juga: Belum Ada Laporan Korban, Polisi Tetap Usut Kasus Begal Payudara di Cikarang
Salah satu pedagang di sekitar Hutan Bambu mengaku omzetnya turun drastis sejak lokasi wisata ditutup.
“Biasanya kalau akhir pekan bisa ramai sekali. Sekarang sepi, kami hanya bisa berharap cepat dibuka lagi setelah aman,” ujarnya.
Tak hanya pelaku usaha, warga yang tinggal di bantaran Kali Bekasi juga diliputi kekhawatiran.
Baca Juga: 350 Jamaah Padati Masjid Al Manar di Malam Pertama Tarawih 1447 H
Mereka cemas longsor susulan atau banjir bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama jika hujan deras kembali mengguyur wilayah hulu.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi, Idi Sutanto, mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi tanggul yang tergerus kepada Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane/BBWSCC, mengingat Kali Bekasi menjadi kewenangan pemerintah pusat.
“Kalau Kali Bekasi itu kewenangannya di BBWSCC. Tahun ini mereka sudah menganggarkan penurapan permanen di beberapa titik,” ujar Idi.
Sejumlah titik rawan yang masuk prioritas penanganan antara lain kawasan Hutan Bambu dan Gang Mawar di Kelurahan Margahayu, sekitar Lotte di Kelurahan Margajaya, serta Kampung Lebak di Kelurahan Teluk Pucung.
Namun, proyek pembangunan tanggul permanen masih menunggu penyelesaian persoalan lahan.
Baca Juga: 350 Jamaah Padati Masjid Al Manar di Malam Pertama Tarawih 1447 H
“Anggaran konstruksi sudah ada. Asalkan lahannya clear, mereka langsung masuk,” jelasnya.
Harapan percepatan normalisasi dan pembangunan tanggul permanen pun menguat dari berbagai pihak.
Warga dan pelaku usaha berharap proyek tersebut segera direalisasikan agar ancaman bencana tidak terus membayangi aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Polsek Bekasi Utara Berhasil Ungkap Curanmor, Motor Hilang Rp32 Juta Dikembalikan ke Pemilik
Dengan musim hujan yang masih berpotensi meningkatkan debit air, keberadaan tanggul permanen dinilai krusial untuk memberikan rasa aman.
Selain melindungi permukiman warga, infrastruktur tersebut juga penting untuk menjaga keberlangsungan sektor wisata dan usaha mikro di sekitar Kali Bekasi.
Bagi masyarakat setempat, pemulihan kawasan Hutan Bambu bukan sekadar soal wisata, melainkan juga soal dapur yang harus tetap mengepul dan rasa aman yang ingin kembali dirasakan.***




