BEKASI.POJOKSATU.ID - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, PT Jasamarga Transjawa Tol memastikan aspek keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama, meskipun langkah tersebut berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas.

Perbaikan jalan berlubang di ruas Tol Jakarta-Cikampek tidak hanya dilakukan pada malam hari, tetapi juga diperluas ke siang hari saat kondisi cuaca ekstrem melanda.

Selama ini, perbaikan rutin dilakukan melalui skema “Jendela Pemeliharaan” mulai pukul 22.00 WIB hingga 05.00 WIB.

Baca Juga: Awal Puasa Uji Kantong Warga, Harga Ayam, Sapi hingga Bawang Kompak Naik di Bekasi

Waktu tersebut dipilih karena arus kendaraan relatif lebih lengang, sehingga pekerjaan dapat berlangsung dengan risiko gangguan minimal terhadap pengguna jalan.

Namun, tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat kerusakan aspal muncul lebih cepat dari perkiraan.

Kondisi ini mendorong manajemen untuk menambah waktu penanganan di luar jadwal normal.

Baca Juga: Perang Terbuka Lawan Pungli di Pasar Cikarang, Plt Bupati dan Kapolres Siap Sikat Oknum Pemeras PKL

VP Corporate Secretary & Legal PT JTT, Ria Marlinda Paallo, menegaskan bahwa keputusan melakukan perbaikan pada siang hari diambil demi keamanan bersama, meski berdampak pada kepadatan lalu lintas.

“Kemarin saat hujan cukup tinggi, kami tambah waktu penanganan dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Memang berdampak pada kepadatan, tetapi ini demi keselamatan pengguna jalan,” ujar Ria, di Bekasi Selatan, Kamis 19 Februari 2026.

Menurutnya, lubang yang dibiarkan terlalu lama berpotensi membahayakan pengendara, khususnya kendaraan kecil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Baca Juga: Hujan Deras dan Truk Overload Bikin Tol Japek Cepat Rusak, 150 Lubang Sehari Ditambal Jelang Mudik 2026

Risiko pecah ban, kehilangan kendali, hingga kecelakaan beruntun menjadi pertimbangan utama percepatan perbaikan.

Senior Manager Representative Office 1 PT JTT, Amri Sanusi, menyebut setiap tim di lapangan mampu menangani 10 hingga 15 lubang per malam.

Dengan 10 tim yang dikerahkan, sedikitnya 120 hingga 150 lubang bisa diperbaiki setiap hari.

“Lubang boleh ada, tapi tidak boleh lama. Umurnya maksimal dua hari harus sudah tertangani,” tegas Amri.

Ia menjelaskan bahwa perbaikan dilakukan dengan metode berbeda sesuai tingkat kerusakan.

Baca Juga: Hindari Jalan Berlubang, Pria 58 Tahun Tewas Tertabrak Truk Trailer di Bekasi

Lubang kecil ditangani melalui patching, sementara kerusakan berdekatan diperbaiki menggunakan metode spetting dan overlay agar daya tahan jalan lebih optimal, terutama menghadapi lonjakan kendaraan saat mudik.

Penambahan jam kerja pada siang hari memang berimplikasi pada perlambatan arus lalu lintas, khususnya di jalur padat seperti Cikunir hingga Cikarang.

Meski demikian, JTT menilai dampak kepadatan bersifat sementara dan lebih kecil risikonya dibanding potensi kecelakaan akibat jalan rusak.

Baca Juga: Camat Medan Satria Turun Langsung ke Rawa Pasung, Aduan Parkir Liar Tak Dibiarkan Berlarut

“Fokus utama kami sebelum Lebaran adalah meminimalisir gangguan di jalan tol, termasuk penanganan lubang yang kami lakukan setiap hari selama 24 jam,” tambah Ria.

Dengan target kondisi jalan mendekati nol lubang pada H-10 Lebaran, perusahaan terus mengintensifkan patroli dan pemantauan titik rawan.

Koordinasi dengan petugas lapangan dilakukan secara real time untuk memastikan setiap temuan kerusakan segera ditangani.

Baca Juga: Dari Kolong Fly Over Jadi Ruang Kreatif, Skatepark Bekasi Diserbu Anak Muda Saat Ramadan

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen JTT menghadapi lonjakan volume kendaraan yang diprediksi signifikan pada musim mudik mendatang.

Bagi manajemen, kelancaran perjalanan tidak hanya soal kecepatan tempuh, tetapi juga jaminan keselamatan setiap pengguna jalan.

Di tengah ancaman cuaca ekstrem dan tingginya mobilitas kendaraan berat, keputusan memperluas jam perbaikan menjadi bukti bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas, meski konsekuensinya adalah antrean kendaraan yang harus dihadapi sementara waktu.***