BEKASI.POJOKSATU.ID - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menyatakan kesiapan penuh dalam menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah dengan menggelar pemantauan hilal di enam titik strategis yang tersebar di berbagai wilayah.
Lokasi tersebut dipilih untuk merepresentasikan kondisi geografis Jawa Barat, mulai dari kawasan pesisir, pegunungan, hingga perkotaan.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, Dudu Rohman, menegaskan bahwa hasil pemantauan dari seluruh titik akan dilaporkan ke pemerintah pusat sebagai bahan sidang isbat penentuan 1 Ramadan.
Baca Juga: Seribu Lampion Hiasi Imlek 2577 di Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi
“Bahwa untuk pemantauan hilal yang nantinya untuk menetapkan satu Ramadan di Jabar ada 6 titik yang nanti tentunya akan dilaporkan ke pusat,” kata Dudu Rohman, Selasa 17 Februari 226.
Enam titik pemantauan tersebut berada di Sukabumi, Universitas Islam Bandung (Unisba), Pantai Gebang Cirebon, Gunung Putri Lapas Banjar, Pantai Pangandaran, dan Astahanas Subang.
Pembagian wilayah pengamatan juga telah diatur agar mencakup seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.
“Jadi Bandung raya, Sumedang dan Garut gabung ke Unisba. Kabupaten Tasik, Kota Tasik dan Ciamis gabung ke Banjar. Kuningan, Majalengka, Indramayu gabung ke Cirebon. Bogor, Depok gabung ke Sukabumi. Bekasi, Karawang, Purwakarta gabung Subang dan Pangandaran sendiri,” jelasnya.
Dalam proses pemantauan hilal, Kemenag Jabar tidak bekerja sendiri.
Berbagai unsur akan dilibatkan, mulai dari organisasi kemasyarakatan Islam, aparat pemerintah, Badan Amil Zakat, hingga tokoh masyarakat.
Baca Juga: Sampah Jadi Bom Waktu di Bekasi, DPRD Minta Langkah Strategis
Hal ini dilakukan untuk memastikan proses berjalan transparan dan dapat diterima seluruh elemen umat.
Metode yang digunakan pun memadukan pendekatan rukyatul hilal (pengamatan langsung), hisab (perhitungan astronomi), serta kajian ilmu falakiyah.
Selain menggunakan metode tradisional, peralatan modern juga disiapkan untuk meningkatkan akurasi pengamatan.
“Segi alat tentunya baik ormas dan Kemenag sudah menjadi keharusan mulai dari hal tradisional dan modern. Pakai alat canggih,” ujar Dudu Rohman.
Ia memastikan seluruh hasil rukyat dari enam titik tersebut akan disampaikan secara resmi ke Kementerian Agama RI untuk dibahas dalam sidang isbat yang melibatkan para ahli falak dan perwakilan ormas Islam.
Baca Juga: Sampah di Sungai Bikin Repot, Wali Kota Bekasi Beri Peringatan
“Laporan dari 6 titik ini akan disampaikan ke pusat melalui sidang isbat yang melibatkan para ahli ilmu falak dan ormas Islam,” katanya.
Dengan kesiapan teknis yang matang, Kemenag Jabar berharap proses penentuan awal Ramadan 1447 H dapat berjalan lancar.
Dudu juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan umat, terutama jika terjadi perbedaan dalam penetapan awal puasa.
“Untuk potensi perbedaan awal Ramadan tentunya umat Islam harus sama-sama menghargai perbedaan tersebut dan kita jangan diperbesar kaitan perbedaan,” tuturnya.
Kesiapan enam titik pemantauan ini menjadi bagian penting dari mekanisme nasional penentuan awal Ramadan, sekaligus menunjukkan komitmen Jawa Barat dalam mendukung proses penetapan yang akurat, transparan, dan sesuai syariat.***




