BEKASI.POJOKBEKASI.id – Tragedi tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line jurusan Cikarang di kawasan Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi perhatian serius Komisi V DPR RI.

Insiden yang menewaskan 16 orang dan melukai puluhan penumpang itu dinilai sebagai alarm keras bagi sistem keselamatan transportasi nasional.

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Sudjatmiko menegaskan, peristiwa tragis tersebut harus menjadi momentum evaluasi total terhadap keberadaan perlintasan sebidang di kawasan padat seperti Bekasi.

“Kecelakaan ini bukan lagi kejadian biasa. Ini alarm keras bahwa sistem transportasi di kawasan Bekasi membutuhkan pembenahan serius dan modernisasi yang nyata,” ujar Sudjatmiko saat kunjungan kerja Komisi V DPR RI di Stasiun Bekasi Timur, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, tingginya volume kendaraan serta padatnya frekuensi perjalanan kereta di lintas Bekasi-Cikarang membuat risiko kecelakaan di perlintasan sebidang semakin tinggi setiap harinya.

“Kita melihat sendiri bagaimana kepadatan di Bekasi sudah sangat luar biasa. Sementara perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan yang membahayakan keselamatan masyarakat,” katanya.

Sudjatmiko menilai, pembangunan flyover maupun underpass di sejumlah titik rawan tidak bisa lagi ditunda hanya karena persoalan administratif atau anggaran.

“Flyover bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak. Jangan sampai negara baru bergerak setelah korban terus berjatuhan,” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula ketika sebuah taksi mengalami insiden di perlintasan sebidang dekat Bekasi Timur hingga mengganggu operasional perjalanan KRL. Dalam kondisi jalur terganggu tersebut, KRL yang berhenti kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.

Benturan keras menyebabkan sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena petugas harus mengevakuasi korban di tengah kondisi jalur yang sempit dan dipenuhi penumpang panik.

Baca Juga : Polisi Tetapkan Sopir Taksi sebagai Tersangka Kecelakaan KRL di Bekasi Timur

Akibat kecelakaan tersebut, perjalanan kereta lintas Bekasi-Cikarang lumpuh total selama proses evakuasi dan perbaikan jalur berlangsung.

Ribuan penumpang terlantar, sementara arus lalu lintas di sekitar lokasi mengalami kemacetan panjang.

Sudjatmiko mengatakan, tragedi Bekasi Timur harus menjadi bahan evaluasi nasional, terutama terkait sistem persinyalan, pengamanan jalur, hingga eliminasi perlintasan sebidang di wilayah urban.

“Kita tidak boleh hanya fokus pada percepatan transportasi, tetapi lupa pada aspek keselamatan. Modernisasi transportasi itu harus menjamin nyawa masyarakat,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta PT KAI memperkuat koordinasi dalam penanganan titik-titik rawan kecelakaan di kawasan Jabodetabek.

“Bekasi adalah simpul transportasi tersibuk di Indonesia. Kalau pengamanan infrastrukturnya tidak diperkuat, potensi kecelakaan serupa bisa terjadi lagi kapan saja,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sudjatmiko turut mengapresiasi kerja cepat Basarnas, BPBD, kepolisian, tenaga kesehatan, dan petugas PT KAI yang melakukan proses evakuasi korban dalam waktu singkat.

“Saya mengapresiasi seluruh petugas di lapangan yang bekerja tanpa henti mengevakuasi korban di tengah situasi sulit. Mereka bekerja maksimal menyelamatkan masyarakat,” ucapnya.

Sudjatmiko menilai, akan mengawal dukungan anggaran dan kebijakan agar pembangunan flyover, underpass, serta pembenahan sistem keselamatan perkeretaapian dapat masuk prioritas nasional.

“Tragedi Bekasi Timur harus menjadi pelajaran besar bagi kita semua. Negara harus hadir memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang,” tandasnya.***