BEKASI.POJOKSATU.ID - Mengajarkan peristiwa Isra Mi’raj kepada anak tidak harus dilakukan dengan ceramah panjang yang sarat istilah berat dan detail sejarah yang sulit dipahami.

Di era sekarang, orang tua dan guru justru ditantang untuk menyampaikan nilai-nilai agama dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak, yaitu melalui cerita dan dongeng yang sederhana, interaktif, serta relevan dengan keseharian mereka.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena anak-anak pada dasarnya menyukai kisah petualangan yang memancing imajinasi dan rasa ingin tahu.

Baca Juga: Ketika Aparat Penegak Hukum Jadi Saksi, Kasus Suap Bekasi Kian Terbuka

Isra Mi’raj sering dianggap sebagai cerita yang rumit karena memuat banyak peristiwa penting, mulai dari perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa, kenaikan ke langit, pertemuan dengan para nabi, hingga turunnya perintah salat lima waktu.

Jika disampaikan dengan gaya orang dewasa, anak mudah kehilangan fokus dan hanya mengingat potongan cerita tanpa memahami pesan utamanya.

Padahal, esensi terpenting dari Isra Mi’raj adalah salat sebagai hadiah sekaligus kewajiban umat Islam.

Baca Juga: Driver Ojek Online Kembali Menjadi korban Begal Usai Mengantarkan Makanan

Banyak pendidik anak menilai kunci utama mengenalkan Isra Mi’raj adalah menetapkan tujuan cerita sejak awal.

Anak tidak perlu memahami semua detail, tetapi cukup menangkap satu pesan utama, yakni pentingnya salat.

Dengan tujuan yang jelas, cerita dapat disusun secara ringkas dan terarah.

Baca Juga: Marjuki Buka Peluang Banyak Calon, Musda Golkar Bekasi Diminta Fair dan Kompetitif

Kalimat pembuka yang memancing rasa penasaran, seperti “Tahukah kamu ada satu malam istimewa ketika Nabi Muhammad SAW mendapat hadiah besar untuk kita semua?” terbukti mampu membuat anak lebih terlibat sejak awal.

Struktur cerita juga memegang peran penting. Penggunaan alur tiga babak dinilai memudahkan anak untuk mengingat.

Babak pertama menggambarkan kondisi Nabi sebelum perjalanan, babak kedua menceritakan Isra dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa, dan babak ketiga menjelaskan Mi’raj serta perintah salat.

Dengan pengulangan sederhana setelah setiap babak, anak secara tidak sadar menghafal alur cerita sambil merasa sedang diajak bermain.

Selain struktur, penggunaan kata kunci yang diulang secara konsisten menjadi teknik efektif agar cerita cepat melekat.

Baca Juga: Usai OTT Ade Kuswara, KPK Panggil Kajari Bekasi untuk Dalami Suap Ijon Proyek

Kata-kata seperti Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsa, dan salat lima waktu dapat dijadikan pola tanya-jawab yang diulang di awal, tengah, dan akhir cerita.

Metode ini membuat anak merasa aktif dan tidak sekadar menjadi pendengar pasif.

Alat bantu visual sederhana juga memperkuat proses belajar. Gambar Ka’bah, masjid, jam salat, atau peta mini perjalanan Nabi membantu anak membayangkan cerita secara konkret.

Baca Juga: Golkar Bekasi Belum Ganti Ketua, Musda Jadi Penentu Arah Baru

Tidak diperlukan alat mahal, cukup kertas gambar atau mainan kecil yang mudah ditemukan di rumah atau kelas.

Anak-anak yang cenderung visual akan lebih mudah memahami urutan peristiwa melalui media tersebut.

Pendekatan mendongeng juga disarankan untuk menghindari pembahasan detail gaib yang terlalu kompleks.

Baca Juga: Akhir Pekan Cerah bagi Investor, Harga Emas Pegadaian Naik Serentak

Penjelasan singkat bahwa Isra Mi’raj adalah mukjizat dari Allah sudah cukup untuk anak usia dini.

Fokus utama sebaiknya diarahkan pada makna dan adab, seperti salat sebagai bentuk komunikasi dengan Allah, sumber ketenangan, dan wujud kasih sayang-Nya kepada manusia.

Untuk memperkuat pemahaman, anak dapat diajak melakukan permainan peran singkat.

Dengan berjalan dari satu sudut ruangan ke sudut lain sebagai simbol perjalanan Isra, lalu menyebutkan “hadiah salat lima waktu”, anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga mengalaminya secara langsung. Aktivitas ini membuat cerita lebih membekas dalam ingatan.

Humor ringan dan pertanyaan sederhana juga membantu menjaga suasana tetap hangat.

Pertanyaan pilihan ganda yang lucu membuat anak tertawa sekaligus fokus pada jawaban yang benar.

Baca Juga: Dari Layar Gawai ke Paham Ekstrem, Alarm Bahaya Radikalisme Anak Kian Nyata

Di akhir cerita, ringkasan singkat dan tantangan hafalan, seperti menyebutkan kata kunci atau waktu salat, memberi rasa pencapaian pada anak.

Melalui teknik mendongeng yang tepat, kisah Isra Mi’raj tidak lagi menjadi cerita tahunan yang cepat dilupakan.

Sebaliknya, ia dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan kecintaan pada salat dan nilai-nilai ibadah sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna bagi anak.***