BEKASI.POJOKSATU.ID - ren diet detoks semakin marak di media sosial, mulai dari konsumsi jus, teh herbal, hingga puasa ekstrem yang diklaim mampu membuang racun dalam tubuh.
Banyak orang tertarik karena menjanjikan hasil cepat, seperti penurunan berat badan dan tubuh yang terasa lebih segar dalam waktu singkat.
Namun, di balik popularitasnya, para ahli kesehatan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh bukti ilmiah.
Profesor gastroenterologi dan hepatologi dari Johns Hopkins University, Tinsay Woreta, menyebut bahwa diet detoks lebih banyak diminati karena keinginan masyarakat terhadap solusi instan.
Baca Juga: Program Kelurahan Cantik Resmi Dicanangkan di Medan Satria, Aparatur Dituntut Melek Data
“Detoks cepat selama tiga hingga tujuh hari tidak akan memberikan manfaat yang sama seperti pola hidup sehat jangka panjang,” ujarnya, dikutip dari The Washington Post, 11 April 2026.
Tubuh Sudah Memiliki Sistem Detoks Alami
Menurut Woreta, tubuh manusia sebenarnya sudah memiliki sistem detoksifikasi alami yang bekerja setiap saat tanpa perlu bantuan diet khusus.
Organ seperti paru-paru, usus, ginjal, dan hati berperan penting dalam proses ini.
Paru-paru membantu mengeluarkan zat berbahaya dari udara, sementara usus membuang sisa makanan yang tidak dibutuhkan.
Ginjal menyaring darah dan mengeluarkan limbah melalui urine. Namun, organ utama dalam proses detoksifikasi adalah hati.
Baca Juga: 60 Persen ASN Bekasi WFH, 40 Persen Tetap Layani Warga, Begini Skema Kerja 25 Ribu Aparatur
Hati bertugas memproses darah dari sistem pencernaan dan mengubah zat berbahaya, termasuk alkohol, menjadi limbah yang dapat dikeluarkan tubuh.
Dengan mekanisme ini, tubuh sebenarnya sudah mampu menjaga keseimbangan tanpa intervensi diet detoks.
Mengapa Diet Detoks Dinilai Tidak Efektif?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diet detoks tidak memberikan hasil signifikan seperti yang sering diklaim.
Banyak studi yang meneliti diet ini memiliki keterbatasan, mulai dari sampel kecil hingga metode penelitian yang kurang kuat.
Penurunan berat badan yang terjadi selama diet detoks biasanya hanya bersifat sementara.
Hal ini disebabkan oleh pembatasan kalori yang ekstrem, bukan karena proses pembuangan racun.
“Tidak ada bukti bahwa jika mengonsumsi makanan seimbang, program detoks akan memberikan manfaat tambahan,” kata Woreta.
Baca Juga: Tak Mau Salah Arah, Bekasi Perkuat Data Kelurahan Lewat Program Strategis
Ketika seseorang kembali ke pola makan normal, berat badan yang sempat turun cenderung naik kembali. Hal ini membuat diet detoks tidak efektif sebagai solusi jangka panjang.
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Selain kurang efektif, diet detoks juga memiliki risiko kesehatan, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan.
Profesor psikiatri dari Duke University, Rhonda Merwin, menjelaskan bahwa pola makan ekstrem dapat memicu kebiasaan makan tidak sehat.
Sementara itu, ahli gizi dari Cleveland Clinic, Julia Zumpano, menyoroti bahwa diet berbasis jus sering kali kekurangan nutrisi penting seperti protein, lemak sehat, dan serat.
Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dan gula darah, yang memicu gejala seperti pusing, lemas, hingga sakit kepala.
Baca Juga: Bima Arya Tegaskan Evaluasi Nasional, Pemda Harus Laporkan Efisiensi Energi Setiap Bulan
Dalam kasus tertentu, kondisi ini bisa berbahaya bagi penderita penyakit jantung atau ginjal.
Mengapa Banyak Orang Merasa Lebih Baik?
Meski banyak orang merasa tubuhnya lebih ringan setelah diet detoks, para ahli menilai efek ini bukan berasal dari proses pembuangan racun.
Perasaan tersebut lebih mungkin muncul karena seseorang mengurangi konsumsi makanan olahan, gula tambahan, dan alkohol selama menjalani diet.
Namun, efek ini bersifat sementara dan tidak memberikan dampak jangka panjang.
Cara Lebih Aman Menjaga Kesehatan
Para ahli menyarankan pendekatan yang lebih berkelanjutan dibanding diet instan.
Pola makan seimbang, seperti diet Mediterania yang kaya buah, sayur, biji-bijian, dan protein tanpa lemak, terbukti lebih efektif dalam menjaga kesehatan.
Selain itu, aktivitas fisik juga menjadi kunci penting. Orang dewasa dianjurkan berolahraga dengan intensitas sedang selama sekitar 150 menit per minggu.
Baca Juga: WFH ASN Bekasi Tiap Jumat Resmi Berlaku, Pemkab Tegaskan Bukan Libur Panjang
Mengurangi konsumsi alkohol juga menjadi langkah penting karena berkaitan dengan risiko berbagai penyakit serius, termasuk gangguan hati dan kanker.
Pada akhirnya, meski diet detoks terlihat menarik dan menjanjikan hasil cepat, pendekatan ini tidak mampu menggantikan pola hidup sehat yang konsisten.
Para ahli menegaskan bahwa menjaga keseimbangan nutrisi dan gaya hidup aktif tetap menjadi cara terbaik untuk mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.***




